PERAN TEMAN SEBAYA DALAM PEMBENTUKAN LITERASI HIV/AIDS ANAK SD
Sumber gambar: https://biodef.co.id/assets/protection/TOP_IMAGE_BIODEF_Pengaruh_Teman_Sebaya.jpg
Teman sebaya memiliki pengaruh besar
terhadap pemahaman anak SD mengenai kesehatan. Anak sering lebih mudah menerima
informasi dari teman sebayanya. Interaksi sehari-hari membuka peluang untuk
berbagi pengetahuan secara alami. Ketika satu anak memahami konsep dasar
HIV/AIDS, ia bisa membantu teman lain. Proses belajar antar teman sering
berlangsung tanpa tekanan. Hal ini membuat informasi kesehatan mudah diingat.
Teman sebaya membantu memperluas literasi kesehatan anak.
Diskusi kelompok kecil dapat menjadi
sarana berbagi pengetahuan yang efektif. Anak dapat saling bertanya mengenai
hal yang belum mereka pahami. Melalui diskusi, mereka belajar menyampaikan
pendapat dengan sopan. Diskusi juga membantu mengoreksi miskonsepsi yang
mungkin dimiliki. Guru dapat mengarahkan agar pembahasan tetap sesuai fakta.
Suasana ini mendorong pemahaman yang lebih mendalam. Kebiasaan berdiskusi
memperkuat kemampuan literasi anak.
Permainan edukatif berbasis kelompok
juga dapat memperkuat pembelajaran. Anak bisa bermain kuis atau tebak fakta
seputar kesehatan. Permainan membuat konsep HIV/AIDS terasa ringan dan
menyenangkan. Anak lebih termotivasi mempelajari kesehatan karena suasana
kompetitif. Kerja sama tim membantu menumbuhkan rasa solidaritas. Melalui
permainan, informasi penting lebih mudah diserap. Pengalaman positif ini
memperkuat minat anak terhadap literasi kesehatan.
Teman sebaya juga berperan dalam
membentuk sikap saling menghargai. Ketika anak memahami bahwa HIV tidak menular
melalui sentuhan, mereka tidak akan menjauhi teman yang sedang sakit. Sikap ini
muncul dari pembelajaran dan contoh nyata di lingkungan sekolah. Mereka dapat
saling mengingatkan untuk bersikap empati. Sikap saling mendukung membuat
lingkungan sekolah lebih inklusif. Anak belajar menghargai perbedaan dengan
cara sederhana. Toleransi tumbuh dari interaksi sehat antar teman.
Guru dapat memfasilitasi kegiatan
kolaboratif yang mendukung pembelajaran bersama. Misalnya, proyek membuat
poster kesehatan dalam kelompok kecil. Proyek ini mendorong anak berdiskusi dan
bekerja sama. Hasil karya kelompok menjadi bukti bahwa pembelajaran bisa
menyenangkan. Teman sebaya berkontribusi membentuk karakter dan pengetahuan
anak. Proses kolaboratif memperkuat literasi kesehatan secara sosial. Ini
membangun generasi anak yang peduli dan informatif.
Author:
Adinda Budi Julianti
Editor:
Nadia Anike Putri