Peran Guru SD sebagai Fasilitator Trauma Healing Pasca Bencana
Pasca terjadinya bencana alam, sekolah dasar seringkali menjadi pusat pemulihan pertama bagi anak-anak untuk kembali mendapatkan rutinitas hidup yang normal dan stabil. Guru SD memegang peran sentral bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai fasilitator trauma healing yang membantu menyembuhkan luka psikologis siswa secara perlahan dan sabar. Melalui kegiatan-kegiatan sederhana seperti menggambar, menyanyi, atau bercerita, guru dapat membantu siswa melepaskan emosi negatif yang terpendam akibat pengalaman traumatis tersebut. Guru harus peka terhadap perubahan perilaku siswa, seperti menjadi pendiam atau justru sangat agresif, sebagai tanda-tanda adanya stres pasca trauma. Mengembalikan keceriaan di ruang kelas darurat merupakan langkah awal yang sangat penting untuk meyakinkan anak-anak bahwa kehidupan akan terus berjalan baik. Dukungan moral dari guru yang konsisten memberikan harapan akan membantu mempercepat proses pemulihan mental siswa agar mereka siap kembali belajar secara optimal.
Dalam menjalankan peran ini, guru tidak perlu bertindak layaknya psikolog profesional, melainkan cukup menjadi pendengar yang baik dan menyediakan ruang aman bagi ekspresi anak. Rutinitas sekolah yang terstruktur kembali sangat membantu memberikan rasa prediktabilitas bagi anak-anak yang dunianya sempat kacau balau karena bencana melanda rumah mereka. Guru dapat menyisipkan permainan-permainan kooperatif yang mendorong interaksi sosial antar teman sejawat untuk saling menguatkan dalam kondisi serba terbatas. Selain itu, guru juga berfungsi sebagai jembatan informasi bagi orang tua tentang perkembangan psikologis anak selama berada di sekolah atau di pengungsian. Pelatihan dasar mengenai penanganan trauma bagi pendidik di daerah terdampak bencana menjadi kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi oleh pemerintah daerah setempat. Kehadiran guru yang tetap tegar dan penuh kasih sayang di tengah reruntuhan sekolah memberikan kekuatan luar biasa bagi siswa untuk bangkit kembali. Sekolah bukan lagi sekadar gedung, melainkan tempat penyembuhan jiwa yang sangat vital bagi masa depan anak-anak penyintas bencana.
Seorang praktisi kesehatan mental anak, Dr. Sandersan Onie, menekankan bahwa pemulihan psikologis anak seringkali bermula dari interaksi harian mereka dengan guru di sekolah. Ia berpendapat, "Guru adalah garis pertahanan pertama dalam mendeteksi trauma pada anak; melalui perhatian kecil dan ruang ekspresi, guru bisa memulai proses penyembuhan yang sangat efektif." Pernyataan ini menegaskan bahwa peran pendidik di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial-geografis yang seringkali diwarnai oleh kejadian bencana alam. Guru yang dibekali dengan keterampilan empati akan mampu mengubah duka menjadi kekuatan melalui pendekatan pedagogis yang humanis dan sangat menyentuh hati. Hal ini menunjukkan pentingnya memasukkan materi kesehatan mental ke dalam pelatihan guru secara berkala di tingkat nasional maupun daerah. Dengan guru yang kompeten dalam fasilitasi trauma, kita bisa memastikan bahwa setiap bencana tidak akan mematikan impian besar anak-anak Indonesia.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita