Peran Guru IPA dalam Meluruskan Mitos Penularan HIV/AIDS
Sumber Gambar. ipa.umsida.ac.id
Banyak stigma terhadap ODHA muncul karena
pemahaman sains yang keliru. Guru IPA memiliki peran penting dalam menjelaskan
mekanisme penularan HIV dengan tepat. Penjelasan ilmiah membuat siswa lebih
tenang dan terhindar dari ketakutan berlebihan. Hal ini membangun dasar sikap
inklusif sejak dini.
Guru dapat menggunakan media visual untuk
menjelaskan cara penularan HIV. Langkah ini membantu siswa memahami perbedaan
antara fakta dan mitos. Ketika pemahaman meningkat, sikap diskriminatif dapat
berkurang. Pengetahuan ilmiah menjadi alat pembebas dari stigma.
Pembelajaran kontekstual mempermudah siswa
menghubungkan sains dengan kehidupan nyata. Guru dapat memberikan contoh nyata
kondisi masyarakat yang hidup berdampingan dengan ODHA. Siswa belajar bahwa
ODHA tidak berbahaya jika mereka memahami cara penularannya. Ini menciptakan
sikap saling menghormati.
Guru juga bisa membuat proyek kelompok tentang
kesehatan reproduksi. Proyek ini melatih kerja sama sekaligus memperkuat
literasi kesehatan siswa. Ketika mereka mengolah informasi sendiri, pemahaman
menjadi lebih mendalam. Hasilnya adalah meningkatnya kepedulian sosial.
Penjelasan harus dilakukan dengan bahasa yang
sensitif. Guru perlu menjaga agar materi tidak menyinggung pihak tertentu.
Sikap hati-hati ini menunjukkan profesionalitas dalam mengajar isu sensitif.
Dengan demikian, siswa merasa aman belajar.
Kolaborasi dengan tenaga kesehatan dapat
meningkatkan validitas materi pembelajaran. Narasumber dari puskesmas dapat
memberikan perspektif langsung di lapangan. Siswa mendapat pemahaman yang lebih
menyeluruh. Hal ini mendukung pembentukan sikap inklusif.
Guru juga harus mengawasi reaksi siswa
terhadap materi HIV. Jika ada siswa yang menunjukkan ketakutan berlebihan, guru
perlu meluruskannya dengan cepat. Penanganan ini mencegah miskonsepsi menyebar
ke seluruh kelas. Semua siswa tetap berada pada pemahaman yang benar.
Dengan pembelajaran sains yang tepat, stigma
dapat dikikis perlahan. Siswa tumbuh menjadi pribadi yang rasional dan empatik.
Mereka memahami bahwa ODHA tetap memiliki hak yang sama dalam pendidikan.
Lingkungan sekolah pun menjadi lebih inklusif.
Author
: Naela Zulianti Ashlah
Editor : Naela Zulianti Ashlah