Peran Guru dalam Menumbuhkan Empati Siswa terhadap ODHA
Sumber Gambar. tirto.id
Guru memiliki peran penting dalam menumbuhkan empati
siswa terhadap ODHA. Empati menjadi dasar agar siswa mampu menghargai perbedaan
dan tidak mudah menghakimi. Tanpa bimbingan guru, siswa dapat terjebak pada
stigma yang salah. Oleh karena itu, guru harus menjadi teladan dalam
menunjukkan kepedulian.
Pembelajaran berbasis nilai membantu siswa memahami
kondisi ODHA secara manusiawi. Guru dapat menggunakan cerita inspiratif untuk
menggugah rasa simpati siswa. Dengan pendekatan emosional, siswa lebih mudah
memahami dampak diskriminasi. Hal ini sekaligus membantu membentuk karakter
inklusif.
Diskusi kelas dapat menjadi sarana efektif untuk
membiasakan siswa melihat permasalahan dari sudut pandang orang lain. Guru bisa
memandu pertanyaan terbuka yang memicu rasa ingin tahu. Ketika siswa saling
bertukar pikiran, mereka belajar menghargai perspektif berbeda. Proses ini
secara tidak langsung menumbuhkan sikap empatik.
Kegiatan proyek sosial juga dapat melatih kepedulian
siswa terhadap sesama. Guru dapat memperkenalkan program yang menekankan nilai
kemanusiaan. Saat terlibat langsung, siswa merasa memiliki pengalaman nyata
untuk memahami perjuangan ODHA. Pengalaman ini akan melekat dan memengaruhi
cara mereka bertindak.
Lingkungan sekolah yang ramah menjadi pendukung utama
dalam penguatan empati. Guru harus memastikan setiap siswa merasa aman
menyampaikan pendapat. Ketika siswa tidak takut salah, mereka lebih terbuka
untuk memahami isu sensitif seperti HIV/AIDS. Ini akan menumbuhkan suasana
belajar yang inklusif.
Penggunaan media visual seperti video dapat membantu
siswa memahami kisah nyata ODHA. Cerita nyata sering kali meninggalkan kesan
mendalam dibandingkan penjelasan biasa. Guru dapat memandu refleksi setelah
menonton materi. Refleksi ini membantu siswa mengolah emosi menjadi empati.
Guru juga dapat mengintegrasikan nilai empati melalui
kegiatan literasi. Buku-buku bertema kemanusiaan dapat menjadi jendela
pemahaman baru bagi siswa. Dengan membaca, siswa belajar melihat kehidupan
orang lain lebih dalam. Kegiatan ini juga memperkaya wawasan mereka.
Empati bukan hanya nilai yang diajarkan, tetapi juga
harus dipraktikkan setiap hari. Guru dapat memberikan contoh dengan bersikap
adil kepada semua siswa. Keteladanan guru menjadi model nyata bagi siswa dalam
membangun karakter inklusif. Inilah kunci untuk menciptakan generasi yang
peduli dan bebas stigma terhadap ODHA.
Author
: Naela Zulianti Ashlah
Editor
: Naela Zulianti Ashlah