Pentingnya Memberi Ruang Kebebasan dalam Mengerjakan Tugas Sekolah
Kebebasan seringkali disalah pahami oleh sebagian pendidik sebagai ketiadaan aturan atau bentuk pengabaian terhadap standar akademik yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Namun, dalam konteks pendidikan dasar yang modern, memberi ruang kebebasan berarti memberikan otonomi kepada siswa untuk menentukan cara, media, atau sudut pandang dalam menyelesaikan sebuah tugas. Ketika seorang siswa diberikan instruksi yang terlalu kaku dan seragam, motivasi intrinsik mereka cenderung menurun karena mereka merasa hanya menjadi pelaksana perintah tanpa keterlibatan emosional. Sebaliknya, saat siswa diberi pilihan—misalnya memilih antara membuat laporan tertulis atau membuat diorama—mereka akan merasa memiliki tanggung jawab penuh atas hasil karyanya tersebut. Kebebasan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap keunikan potensi setiap anak yang memiliki cara belajar dan kecerdasan yang berbeda-beda satu sama lain. Ruang otonomi inilah yang menjadi tempat tumbuhnya kemandirian berpikir dan rasa percaya diri siswa yang akan sangat berguna di jenjang pendidikan selanjutnya.
Pemberian otonomi dalam tugas sekolah juga sangat efektif untuk memicu munculnya kreativitas yang tidak terduga dari pikiran polos anak-anak sekolah dasar. Jika tugasnya adalah "menceritakan pengalaman liburan", biarkan mereka memilih apakah ingin menyampaikannya lewat puisi, komik, atau rekaman suara layaknya seorang penyiar radio. Variasi media ini memungkinkan siswa untuk menunjukkan kekuatan mereka yang mungkin selama ini tidak terlihat dalam tes tertulis yang bersifat standar dan kaku. Guru akan sering kali dikejutkan oleh kedalaman pemikiran siswa saat mereka merasa tidak dikekang oleh format-format formal yang membatasi imajinasi mereka saat belajar. Selain itu, ruang kebebasan ini melatih kemampuan manajemen waktu dan pengambilan keputusan, karena siswa harus menimbang cara mana yang paling efektif untuk mengekspresikan ide mereka. Inilah esensi dari pembelajaran yang memerdekakan, di mana siswa menjadi subjek aktif dalam membangun pengetahuan dan keterampilannya sendiri secara mandiri.
Pakar motivasi pendidikan, Edward Deci, dalam teori Self-Determination menjelaskan bahwa "Manusia memiliki kebutuhan dasar akan otonomi, kompetensi, dan keterkaitan untuk bisa tumbuh dan berkembang secara optimal dalam lingkungan belajarnya." Kutipan ini mempertegas bahwa memberikan kebebasan dalam mengerjakan tugas bukanlah sebuah "bonus", melainkan kebutuhan psikologis mendasar agar anak tetap mencintai proses belajar di sekolah. Jika kebutuhan akan otonomi ini terpenuhi, siswa akan mengerjakan tugas dengan penuh gairah karena mereka merasa karya tersebut adalah cerminan dari identitas dan pemikiran mereka sendiri. Rasa bangga yang muncul saat berhasil menyelesaikan tugas dengan cara yang unik akan meningkatkan harga diri siswa secara signifikan di hadapan teman-teman dan gurunya. Kita ingin mencetak generasi yang mandiri, bukan generasi yang hanya bisa bergerak jika diberikan instruksi yang sangat mendetail dan kaku dari atasan mereka kelak. Kebebasan yang terarah adalah kunci untuk membuka potensi tersembunyi yang ada dalam diri setiap murid di ruang kelas kita.
Namun, memberikan kebebasan bukan berarti guru melepaskan tangan begitu saja tanpa memberikan panduan atau rubrik penilaian yang jelas dan transparan. Guru tetap harus menetapkan tujuan pembelajaran (aspek apa yang harus dikuasai), namun membebaskan jalur atau proses yang ditempuh siswa untuk mencapai tujuan tersebut di kelas. Rubrik penilaian yang fokus pada proses dan orisinalitas akan membantu siswa tetap berada pada koridor akademik namun tetap memiliki ruang luas untuk berekspresi secara kreatif. Guru juga perlu berperan sebagai konsultan yang siap memberikan umpan balik konstruktif saat siswa merasa bimbang dengan pilihan cara yang mereka ambil untuk tugasnya. Dengan dukungan yang tepat, ruang kebebasan ini tidak akan berubah menjadi kekacauan, melainkan menjadi simfoni kreativitas yang sangat kaya dan beragam di dalam kelas. Siswa akan belajar bahwa ada banyak jalan menuju kesuksesan, dan setiap individu berhak memilih jalan yang paling sesuai dengan bakat unik yang mereka miliki.
Pada akhirnya, ruang kebebasan dalam mengerjakan tugas adalah sarana latihan bagi siswa untuk menghadapi dunia nyata yang tidak selalu memberikan instruksi yang jelas bagi setiap masalah. Kemampuan untuk menentukan strategi sendiri dalam menghadapi tantangan adalah keterampilan bertahan hidup yang sangat krusial bagi generasi masa depan di tengah perubahan zaman. Kita sedang menyiapkan individu-individu yang berani mengambil risiko intelektual dan tidak takut untuk berbeda selama hal tersebut berlandaskan pada logika dan etika. Sekolah dasar harus menjadi garda terdepan dalam meruntuhkan budaya seragam yang mematikan keunikan setiap anak didik yang kita sayangi. Mari kita mulai memberikan kepercayaan yang lebih besar kepada siswa untuk mengambil kendali atas proses belajar mereka sendiri melalui pilihan-pilihan tugas yang memerdekakan. Dengan begitu, kita sedang membantu mereka menemukan jati diri dan potensi terbaik mereka sebagai manusia yang kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab sepenuhnya.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita