PENTINGNYA GURU MENGGUNAKAN BAHASA NON-STIGMA DALAM EDUKASI HIV
Sumber gambar: https://cdn.slidesharecdn.com/ss_thumbnails/hivdayhassannadeem-221127172148-c97b32aa-thumbnail.jpg?width=640&height=640&fit=bounds
Bahasa yang digunakan guru dalam
menjelaskan HIV sangat berpengaruh terhadap pemahaman anak. Penggunaan
kata-kata yang bernada buruk dapat menimbulkan stigma. Anak menjadi takut dan
salah memahami kondisi ODHA. Guru harus memilih kata yang lebih netral dan
edukatif. Misalnya menggunakan istilah “orang dengan HIV” bukan “penderita
HIV”. Pilihan bahasa seperti ini membantu membangun empati. Hal ini penting
untuk membentuk pemahaman sehat.
Guru dapat berlatih menggunakan
bahasa non-stigma melalui diskusi profesional. Mereka dapat saling memberi
masukan tentang istilah yang tepat digunakan. Pelatihan kecil dapat membantu
meningkatkan keterampilan komunikasi. Guru menjadi lebih siap menyampaikan
materi kepada siswa. Bahasa yang baik menciptakan suasana kelas yang lebih
aman. Anak pun lebih mudah memahami materi. Penggunaan bahasa yang tepat sangat
penting.
Anak perlu dibiasakan mendengar
istilah yang tidak bernada menghakimi. Guru dapat memberikan contoh bagaimana
menggunakan bahasa tersebut. Anak kemudian diminta mengikuti cara yang sama.
Dengan demikian, mereka belajar berbicara dengan empati. Sikap ini terbawa
hingga pergaulan sehari-hari. Kebiasaan berbahasa baik mengurangi risiko
diskriminasi. Nilai positif pun berkembang dalam diri anak.
Orang tua juga perlu memahami
penggunaan bahasa non-stigma di rumah. Komunikasi keluarga menjadi contoh utama
bagi anak. Jika orang tua menggunakan bahasa positif, anak akan menirunya. Hal
ini membantu membangun lingkungan sosial yang sehat. Orang tua dapat belajar
melalui brosur atau diskusi dengan guru. Kerja sama ini memperkuat literasi
kesehatan. Anak pun memiliki pemahaman yang lebih lengkap.
Bahasa non-stigma membantu menciptakan masyarakat yang lebih inklusif. Anak yang terbiasa mendengar bahasa baik akan tumbuh menjadi pribadi yang toleran. Mereka tidak mudah merendahkan orang lain karena penyakitnya. Sikap ini penting untuk membangun hubungan sosial yang sehat. Edukasi tentang bahasa menjadi bagian dari literasi kesehatan. Dengan demikian, pendidikan ini memberi dampak jangka panjang. Anak pun berkembang menjadi generasi yang penuh empati.