Pentingnya Dukungan Psikososial bagi Siswa Terdampak Bencana
Sumber:
Gemini AI
Dukungan
psikososial adalah pendekatan holistik yang menggabungkan dukungan emosional,
sosial, dan praktis untuk membantu individu dan komunitas pulih setelah
bencana. Untuk anak sekolah, dukungan ini krusial karena mereka tengah dalam
proses perkembangan kognitif dan emosional; gangguan prolong dapat berpengaruh
pada pembelajaran, hubungan sosial, dan kesehatan mental jangka panjang.
Dukungan psikososial tidak selalu identik dengan layanan klinis ia mencakup
penyediaan lingkungan aman, rutinitas yang stabil, kesempatan untuk
berekspresi, dan jaringan sosial yang suportif.
Pada fase darurat
dan respons awal, bentuk dukungan psikososial yang efektif mencakup pengamalan
Psychological First Aid, penyediaan ruang aman untuk bermain dan belajar,
pemenuhan kebutuhan dasar, serta komunikasi yang jelas kepada anak dan
keluarga. Sekolah yang berhasil menyediakan ruang aman dan rutinitas sederhana
mampu menjadi penyangga penting. Siswa memerlukan kepastian jadwal kelas,
makanan, dan tempat tidur yang layak karena kepastian itu sendiri menurunkan
tingkat stres. Aktivitas berbasis permainan dan kelompok membantu menyalurkan
emosi serta memperkuat hubungan antar teman.
Pada fase menengah
hingga jangka panjang, pendekatan yang lebih terstruktur menjadi penting:
konseling individu atau kelompok, program pemulihan pembelajaran yang
menyesuaikan tingkat konsentrasi anak, serta program peer-support yang melatih
siswa sebagai pendengar. Intervensi ini harus berkelanjutan dan sensitif
terhadap perkembangan; beberapa anak menunjukkan gejala lama yang muncul
setelah beberapa bulan, sehingga pemantauan berkala dan mekanisme rujukan ke
layanan kesehatan mental profesional perlu disiapkan. Sinergi antara guru,
konselor, tenaga kesehatan, dan komunitas memastikan adanya pengawasan
berkelanjutan.
Sekolah memiliki
peran sentral dalam menerapkan dukungan psikososial: integrasi kegiatan
sosial-emosional dalam kurikulum, pelatihan guru untuk memahami tanda trauma,
serta pengaturan ruang dan waktu untuk aktivitas pemulihan. Kegiatan sederhana
seperti kelas “circle time”, latihan relaksasi, atau proyek kreatif dapat
memperkuat rasa kebersamaan dan memberikan outlet ekspresif. Penting pula
menanamkan budaya inklusif sehingga siswa yang mengalami kesulitan tidak
terstigmatisasi.
Pengukuran
efektivitas dukungan psikososial tidak boleh diabaikan. Kombinasi metode
kuantitatif dan kualitatif kuesioner kesejahteraan, wawancara mendalam, dan
observasi perilaku membantu menilai perkembangan. Data ini berguna untuk
menyesuaikan program dan mengidentifikasi kebutuhan intervensi lebih intens.
Selain itu, jalur rujukan yang jelas ke layanan kesehatan mental profesional
harus menjadi bagian dari sistem, terutama ketika ada indikasi gangguan berat
seperti PTSD, depresi mayor, atau risiko bunuh diri.
Agar dukungan
psikososial berkelanjutan, perlu dukungan kebijakan dan sumber daya: alokasi
anggaran, pelatihan tenaga, dan kemitraan lintas sektor. Kesadaran masyarakat
dan orang tua juga kunci dukungan di rumah memperkuat yang diberikan di
sekolah. Dengan implementasi yang konsisten dan berbasis bukti, dukungan
psikososial bukan hanya membantu anak pulih dari trauma, tetapi juga membangun
kapasitas coping yang memperkuat ketahanan jangka panjang individu dan
komunitas sekolah.
Editor: Firstlyta
Bulan