Penguatan Rasa Aman di Kelas bagi Siswa ODHA
Sumber Gambar. https://umj.ac.id/
Guru
bertanggung jawab menciptakan rasa aman bagi semua siswa. Kelas harus menjadi
ruang tanpa diskriminasi bagi ODHA. Rasa aman ini penting untuk perkembangan
mental dan akademik. Tanpa rasa aman, siswa sulit berkembang optimal.
Guru
dapat membuat aturan kelas yang menekankan sikap saling menghargai. Aturan
tersebut harus disepakati bersama siswa. Melibatkan siswa dalam penyusunan
aturan meningkatkan rasa kepemilikan. Kelas menjadi lebih kompak dan peduli.
Penyampaian
materi tentang HIV/AIDS harus berbasis fakta ilmiah. Guru menjelaskan bahwa HIV
tidak menular melalui kontak sehari-hari. Pemahaman ini mengurangi ketakutan
berlebihan pada siswa lain. Sikap ini menjadi langkah awal menerima ODHA secara
penuh.
Guru
juga perlu memperhatikan bahasa yang digunakan saat membahas isu kesehatan.
Kata-kata yang salah dapat memperkuat stigma. Bahasa yang santun menunjukkan
keteladanan bagi siswa. Komunikasi positif selalu berdampak baik.
Identitas
kesehatan siswa harus dijaga dengan ketat. Guru tidak boleh membocorkan
informasi sensitif. Kerahasiaan ini memberikan perlindungan psikologis kepada
ODHA. Privasi adalah hak yang harus dihormati.
Dukungan
emosional dari guru sangat berpengaruh terhadap kepercayaan diri ODHA. Bertanya
kabar secara personal merupakan bentuk perhatian kecil namun bermakna. Guru
dapat menjadi tempat curhat yang aman. Kehangatan hubungan ini membuat siswa
merasa dihargai.
Guru
juga perlu aktif mencegah perundungan. Setiap gejala bullying harus segera
dihentikan. Tindakan cepat menunjukkan bahwa diskriminasi tidak dibenarkan.
Siswa lain pun belajar bersikap lebih peka.
Dengan
berbagai upaya tersebut, kelas menjadi tempat yang benar-benar aman bagi ODHA.
Mereka dapat belajar tanpa rasa takut. Guru berhasil menciptakan lingkungan
inklusif. Semua siswa tumbuh dengan nilai kemanusiaan yang kuat.
Author
: Naela Zulianti Ashlah
Editor : Naela Zulianti Ashlah