Penguatan Kompetensi Kepribadian: Guru Dilatih Menjadi Trauma-Informed Practitioner
Sumber: https://share.google/images/ISOWzqWwJA2WOcI67
Penguatan kompetensi kepribadian guru kini mencakup pelatihan intensif untuk menjadi Trauma-Informed Practitioner. Pelatihan berkelanjutan ini mengajarkan guru cara mengidentifikasi, memahami, dan merespons siswa yang mungkin mengalami trauma, baik dari pengalaman pribadi maupun lingkungan. Guru harus mampu menciptakan lingkungan sekolah yang aman, suportif, dan menyembuhkan bagi semua siswa, khususnya yang rentan. Kesehatan mental siswa menjadi prioritas utama.
Materi pelatihan mencakup tanda-tanda trauma pada anak, prinsip-prinsip Trauma-Informed Care (TIC), dan strategi de-eskalasi dalam situasi krisis emosional. Guru diajarkan cara membangun hubungan yang aman dan terpercaya dengan siswa, serta menghindari pemicu trauma ulang. Program ini juga membahas pentingnya self-care bagi guru untuk mencegah secondary trauma. Guru adalah garda terdepan dukungan mental.
Peningkatan kompetensi ini secara signifikan memperkuat kompetensi kepribadian guru dalam hal empati, kesabaran, dan kemampuan regulasi emosi. Guru menjadi lebih responsif terhadap kebutuhan emosional siswa dan mampu menciptakan ruang kelas yang inklusif. Kompetensi sosial guru juga terasah dalam berkolaborasi dengan psikolog sekolah dan orang tua untuk memberikan dukungan holistik. Guru adalah healer di sekolah.
Tantangan utama adalah kompleksitas trauma yang beragam, menuntut pelatihan yang mendalam dan berkelanjutan. Diperlukan alokasi sumber daya untuk mendatangkan psikolog atau terapis profesional sebagai trainer. Kepala sekolah harus memastikan adanya sistem rujukan dan dukungan psikososial bagi siswa dan guru di sekolah. Stigma terhadap masalah kesehatan mental harus dihilangkan.
Pelatihan Trauma-Informed Practitioner ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem sekolah yang sensitif terhadap trauma dan responsif terhadap kebutuhan psikologis siswa. Guru profesional adalah individu yang tidak hanya peduli pada nilai akademik, tetapi juga kesejahteraan mental dan emosional setiap anak. Pendidikan harus menyembuhkan dan memberdayakan seluruh potensi siswa.