Penguatan Karakter Siswa melalui Pendidikan Anti-Stigma terhadap ODHA
Sumber Gambar. https://smkn2mgl.sch.id/read/506/kegiatan-penguatan-pendidikan-karakter-bagi-siswa-siswi-kelas-10-smk-negeri-2-magelang
Pendidikan
anti-stigma merupakan bagian penting dalam penguatan karakter siswa. Guru
memiliki peran utama dalam mengajarkan pentingnya menghormati semua orang.
Melalui pendekatan yang tepat, siswa belajar memahami nilai persamaan derajat.
Pendidikan ini menjadi dasar bagi pembentukan karakter positif.
Guru dapat memulai dengan memberikan pemahaman yang benar tentang HIV/AIDS.
Pengetahuan yang tepat mencegah siswa mengembangkan ketakutan keliru. Informasi
ilmiah memperkuat kemampuan berpikir kritis mereka. Dengan begitu, siswa
menjadi lebih objektif dalam menilai situasi.
Diskusi kelas menjadi sarana efektif untuk membongkar stigma. Siswa diberi
kesempatan untuk menyampaikan pendapat secara terbuka. Guru kemudian membimbing
arah pembicaraan agar tetap positif. Proses ini mengajarkan keberanian
sekaligus empati.
Kegiatan refleksi membantu siswa memahami sikap mereka sendiri. Refleksi dapat
dilakukan melalui jurnal harian atau catatan singkat. Siswa menuliskan pendapat
mereka setelah mempelajari isu ODHA. Cara ini membantu mereka mengoreksi sikap
yang kurang tepat.
Guru dapat mengaitkan materi dengan nilai-nilai Pancasila. Terutama pada sila
kemanusiaan yang adil dan beradab. Siswa diajak memahami bahwa diskriminasi
berlawanan dengan nilai luhur bangsa. Penguatan nilai ini menjadi pondasi
pembelajaran.
Proyek kelas seperti pembuatan poster edukasi dapat menguatkan pesan
anti-stigma. Siswa bekerja dalam kelompok untuk menyampaikan pesan positif.
Kegiatan kreatif membuat pembelajaran lebih menyenangkan. Poster tersebut dapat
dipajang di lingkungan sekolah.
Selain itu, guru dapat memberikan penghargaan pada siswa yang menunjukkan
perilaku inklusif. Penghargaan sederhana dapat meningkatkan motivasi. Siswa
merasa dihargai atas tindakan baik mereka. Kebiasaan positif pun terbentuk
secara bertahap.
Jika
pendidikan anti-stigma dilakukan terus-menerus, karakter siswa semakin kuat.
Mereka tumbuh menjadi individu yang adil dan menghargai keberagaman. Sikap ini
menciptakan lingkungan sosial yang lebih sehat. Guru menjadi penggerak utama
proses perubahan ini.
Author
: Naela Zulianti Ashlah
Editor : Naela Zulianti Ashlah