PENGGUNAAN MEDIA PERMAINAN TRADISIONAL UNTUK PENDIDIKAN ANTIKORUPSI DI SD
Sumber foto: Gemini AI
Permainan tradisional merupakan media pembelajaran yang sangat efektif untuk menanamkan nilai-nilai antikorupsi pada siswa sekolah dasar. Permainan tradisional Indonesia seperti congklak, bentengan, gobak sodor, dan lompat tali mengandung nilai-nilai luhur seperti kejujuran, sportivitas, kerjasama, dan keadilan. Melalui permainan, pembelajaran menjadi menyenangkan dan nilai-nilai antikorupsi dapat terinternalisasi secara natural tanpa terasa menggurui.
Implementasi permainan tradisional dalam pendidikan antikorupsi dilakukan dengan mengidentifikasi nilai-nilai yang terkandung dalam setiap permainan. Congklak mengajarkan kejujuran dalam menghitung dan sportivitas menerima kekalahan. Bentengan mengajarkan kerjasama tim dan tanggung jawab menjaga wilayah. Gobak sodor mengajarkan strategi, kerjasama, dan mematuhi aturan permainan. Setelah bermain, guru memfasilitasi refleksi dimana siswa mendiskusikan nilai-nilai yang mereka pelajari dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Keunggulan permainan tradisional adalah keterlibatan aktif seluruh siswa, pembelajaran melalui pengalaman langsung, dan penguatan karakter melalui praktik bukan sekadar teori. Siswa yang berbuat curang dalam permainan akan langsung merasakan konsekuensinya seperti ditegur teman atau tidak diterima bermain lagi. Ini mengajarkan bahwa ketidakjujuran memiliki dampak sosial yang nyata. Permainan juga melatih siswa menghadapi kemenangan dan kekalahan dengan sikap yang tepat.
Tantangan dalam menggunakan permainan tradisional adalah generasi muda yang lebih terbiasa dengan permainan digital. Namun, justru ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kembali kearifan budaya lokal sambil menanamkan nilai antikorupsi. Sekolah dapat mengalokasikan waktu khusus untuk permainan tradisional dan melibatkan orang tua atau tokoh masyarakat sebagai narasumber. Dengan kreativitas guru dalam mengintegrasikan permainan tradisional, pendidikan antikorupsi menjadi lebih bermakna, menyenangkan, dan mengakar pada budaya lokal.
Author & Editor: Nadia Anike Putri