Pengembangan Instrumen Asesmen untuk Mengukur Pemahaman HAM Siswa SD
Pendidikan Hak Asasi Manusia (HAM) yang efektif harus
dievaluasi tidak hanya pada aspek pengetahuan (kognitif) tetapi juga pada sikap
(afektif) dan keterampilan (psikomotorik). Oleh karena itu, pengembangan
instrumen asesmen yang valid dan reliabel untuk mengukur pemahaman HAM siswa SD
menjadi sangat mendesak, karena asesmen tradisional sering kali gagal menangkap
dimensi nilai dan perilaku yang lebih dalam.
Instrumen asesmen harus dikembangkan berdasarkan kerangka
teori yang membagi kompetensi HAM menjadi tiga domain: Pengetahuan Konseptual
(definisi hak), Penalaran Moral (menyelesaikan dilema dan menganalisis kasus),
dan Keterampilan Sosial (praktik empati dan toleransi). Asesmen tidak boleh
bersifat menghakimi, melainkan formatif, digunakan untuk memandu pengajaran
selanjutnya.
Penelitian ini mengusulkan pengembangan instrumen campuran:
(1) Tes Pilihan Ganda Kontekstual untuk domain kognitif, yang mengukur
pemahaman dalam skenario praktis, (2) Skala Likert berbasis Skenario/Dilema
untuk domain afektif (mengukur empati dan sikap non-diskriminasi), dan (3)
Rubrik Observasi untuk domain perilaku yang menilai keterampilan sosial selama
kegiatan diskusi atau role playing.
Instrumen yang diusulkan harus melewati tahap uji validitas
isi (content validity) oleh pakar HAM, psikologi anak, dan praktisi pendidikan,
serta uji reliabilitas statistik. Tujuannya adalah memastikan bahwa alat ukur
benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur, misalnya, kemampuan siswa
untuk bersikap adil, bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan guru.
Tantangan terbesar dalam asesmen ini adalah mengukur domain
afektif tanpa menghasilkan jawaban yang diinginkan secara sosial (social
desirability bias), di mana siswa menjawab sesuai dengan yang mereka pikir
ingin didengar guru. Oleh karena itu, penggunaan skenario anonim dan observasi
perilaku dalam situasi alami menjadi kunci untuk mendapatkan data yang jujur
dan otentik mengenai sikap siswa.
Instrumen asesmen HAM yang komprehensif sangat mungkin
dikembangkan untuk jenjang SD jika dirancang dengan hati-hati. Direkomendasikan
agar instrumen ini diintegrasikan ke dalam sistem asesmen nasional sebagai alat
untuk memantau keberhasilan kurikulum HAM secara keseluruhan dan bukan hanya
sebagai nilai yang mempengaruhi kenaikan kelas.
Author:
Firstlyta Bulan Aulya Ahmad
Editor: Arika Rahmania
Sumber: AI