PENGARUH MEDIA DIGITAL TERHADAP LITERASI HIV/AIDS ANAK SEKOLAH DASAR
Sumber gambar: https://static.gatra.com/foldershared/images/2021/Far/07-Jul/74ac6215acdfecbc1c5fcd85b5f8850f4fee6730e330752aa0e761f70c48abd4.0.jpg
Media digital kini menjadi bagian
penting kehidupan anak SD. Banyak anak mengenal informasi melalui video, gim
edukatif, dan konten visual lainnya. Media digital dapat membantu menjelaskan
konsep HIV/AIDS secara sederhana. Anak juga lebih tertarik belajar melalui
tampilan visual yang menarik. Dengan pengawasan yang tepat, media digital
menjadi sarana edukasi yang efektif. Informasi yang disampaikan dapat lebih
mudah dipahami. Ini membantu membangun literasi kesehatan sejak dini.
Video animasi dapat menjelaskan cara
kerja virus dengan bahasa anak. Anak cenderung lebih cepat memahami informasi
yang disertai gambar bergerak. Animasi juga mampu menyampaikan pesan moral
dengan cara yang lembut. Melalui video, anak dapat belajar empati dan rasa
hormat terhadap orang lain. Konten yang tepat dapat menghilangkan ketakutan
berlebihan. Video menjadi jembatan antara edukasi dan hiburan. Ini membuat
proses belajar lebih alami.
Aplikasi edukasi juga dapat membantu
memperkenalkan konsep kesehatan. Aplikasi biasanya menyediakan permainan
interaktif yang menyenangkan. Permainan membuat anak lebih bersemangat
mempelajari topik yang sensitif. Anak belajar sambil bermain tanpa merasa
terbebani. Aplikasi juga membuat pembelajaran dapat dilakukan di rumah. Orang
tua dapat mendampingi untuk memastikan pemahaman yang benar. Media digital
memberikan fleksibilitas dalam belajar.
Namun, penggunaan media digital
harus tetap diawasi dengan baik. Tanpa pengawasan, anak bisa menemukan
informasi yang salah atau menakutkan. Orang tua dan guru harus memilih konten
yang sesuai usia. Pengawasan membuat anak belajar dalam lingkungan yang aman.
Tantangan ini bisa diatasi dengan menyediakan daftar konten edukatif. Dengan
panduan yang tepat, anak dapat belajar dengan optimal. Penggunaan media digital
harus seimbang dan mendidik.
Media digital juga membuka peluang
edukasi kolaboratif antara orang tua dan anak. Mereka dapat menonton video
edukatif bersama. Setelah itu, orang tua bisa menjelaskan hal-hal yang belum
dipahami anak. Aktivitas ini mempererat hubungan keluarga sekaligus memperkuat
literasi. Anak merasa nyaman bertanya karena suasana yang aman. Pembelajaran
menjadi lebih personal dan efektif. Media digital menjadi alat bantu yang
sangat berharga.
Author:
Adinda Budi Julianti
Editor:
Nadia Anike Putri