Pendidikan Nilai oleh Guru untuk Menolak Diskriminasi ODHA
Sumber Gambar. https://kumparan.com/berita-terkini/contoh-jurnal-modul-3-filosofi-pendidikan-dan-pendidikan-nilai-tahun-2025-25ISWOKosX8
Pendidikan
nilai adalah inti dari tugas seorang guru. Melalui pendidikan nilai, siswa
dapat memahami pentingnya menghormati semua orang, termasuk ODHA. Guru menjadi
teladan dalam bersikap adil dan penuh kasih. Keteladanan ini membentuk karakter
siswa.
Guru
dapat memasukkan materi tentang nilai kemanusiaan dalam pembelajaran. Nilai
seperti keadilan, kepedulian, dan empati sangat relevan. Siswa merenungkan
nilai tersebut melalui contoh dan diskusi. Proses ini membuat nilai melekat
lebih kuat.
Cerita
moral adalah media efektif untuk menyampaikan pendidikan nilai. Guru dapat
menggunakan kisah inspiratif tentang perjuangan ODHA. Cerita tersebut membuka
wawasan dan perasaan siswa. Dengan begitu, siswa belajar menghargai perjalanan
hidup orang lain.
Guru
juga dapat memberikan penugasan refleksi untuk memperkuat pemahaman. Siswa
diminta menulis tentang pentingnya menghindari diskriminasi. Latihan ini
membantu mereka memeriksa sikap pribadi. Refleksi memperkuat hubungan antara
nilai dan tindakan nyata.
Diskusi
kelompok tentang isu sosial dapat memperkaya perspektif siswa. Mereka bertukar
pandangan secara santun. Guru mengarahkan agar diskusi tetap fokus dan positif.
Sikap toleran tumbuh dalam suasana seperti ini.
Kegiatan
penilaian diri juga dapat digunakan guru. Siswa menilai sejauh mana mereka
menghargai teman-temannya. Penilaian diri membantu siswa menyadari kekurangan
dan kelebihan sikap mereka. Ini memperkuat kesadaran moral.
Guru
perlu konsisten dalam menerapkan aturan perilaku positif di kelas. Konsistensi
memberikan pesan kuat bahwa diskriminasi tidak bisa diterima. Siswa pun
terbiasa berperilaku sopan dan peduli. Kelas menjadi lebih manusiawi.
Melalui
pendidikan nilai, guru membantu membangun generasi yang bijaksana. Siswa tumbuh
menjadi pribadi yang menghargai keberagaman. ODHA pun merasa aman dan diterima
di lingkungan sekolah. Inilah wujud nyata pendidikan inklusif.
Author
: Naela Zulianti Ashlah
Editor : Naela Zulianti Ashlah