Kita sering terjebak dalam perdebatan mengenai kurikulum mana yang terbaik. Apakah K-13? Apakah Kurikulum Merdeka? Namun, dalam diskursus S3 Pendidikan Dasar, kita memahami satu variabel konstan yang tak tergantikan: Guru. Pendidikan karakter tidak bisa diajarkan melalui modul semata. Kejujuran, tanggung jawab, dan gotong royong adalah nilai-nilai yang harus "ditularkan", bukan sekadar dihafalkan. Di sinilah letak krusialnya komitmen seorang guru. Thomas Lickona pernah menyebutkan tentang moral knowing, moral feeling, dan moral acting. Jembatan antara mengetahui dan melakukan itu adalah keteladanan guru yang berkomitmen. Bayangkan sebuah kelas dengan kurikulum karakter terbaik di dunia, namun diajarkan oleh guru yang apatis, sering terlambat, dan tidak ramah. Bisakah karakter siswa terbentuk? Mustahil. Sebaliknya, di sekolah dengan fasilitas terbatas, seorang guru yang berkomitmen tinggi dapat melahirkan murid-murid bermental baja. Komitmen guru adalah energi tak terlihat yang menghidupkan dokumen kurikulum. Ia adalah "kurikulum tersembunyi" (hidden curriculum) yang paling efektif. Oleh karena itu, riset dan pengembangan di tingkat doktoral tidak boleh hanya fokus pada apa yang diajarkan, tetapi siapa dan bagaimana komitmen sang pengajar dalam membawakan nilai tersebut.