Pendidik Inginkan Pembelajaran Inklusif Lebih Diperkuat
Peringatan Hari Guru tahun ini kembali menjadi ruang refleksi bagi para pendidik di berbagai daerah. Isu yang paling banyak mencuat adalah kebutuhan mendesak untuk memperkuat pembelajaran inklusif di sekolah. Para guru menilai bahwa keberagaman kemampuan, latar belakang, dan kebutuhan siswa semakin menuntut strategi pengajaran yang adaptif dan adil. “Kita tidak bisa lagi memakai pendekatan seragam. Setiap anak berhak mendapatkan kesempatan belajar yang setara,” ujar sejumlah pendidik dalam diskusi Hari Guru 2025.
Salah satu tantangan terbesar adalah minimnya fasilitas serta pelatihan teknis bagi guru untuk menangani kebutuhan khusus di ruang kelas. Banyak guru yang sebenarnya ingin menerapkan praktik inklusif, namun masih terkendala kurangnya dukungan sarana dan kebijakan. Kondisi ini membuat implementasi pembelajaran inklusif sering hanya berhenti sebagai wacana, bukan praktik nyata yang berkelanjutan.
Ahli pendidikan asal Finlandia, Prof. Hanna Komulainen (2022) menilai bahwa inklusivitas adalah fondasi penting bagi sistem pendidikan yang kuat. “Negara yang berhasil membangun pendidikan berkualitas selalu memulai dari penghargaan pada keberagaman siswa. Guru harus dibekali kemampuan untuk mengajar dengan diferensiasi yang jelas,” ungkapnya. Ia menegaskan bahwa intervensi awal dan pelatihan berkelanjutan menjadi penentu keberhasilan inklusi.
Sementara itu, pakar pedagogi dari Belanda, Dr. Leonora van der Velde (2023) menekankan perlunya pendekatan kolaboratif antara sekolah, orang tua, dan pemerintah. “Pembelajaran inklusif tidak bisa bergantung pada guru saja. Butuh sistem pendukung yang solid, mulai dari konselor sekolah hingga penyediaan modul adaptif untuk berbagai kebutuhan anak,” jelasnya. Menurutnya, negara-negara Asia memiliki potensi besar untuk memperkuat gerakan inklusif karena struktur komunitas yang kuat dan budaya gotong royong.
Para guru berharap momentum Hari Guru 2025 dapat menjadi pintu bagi perubahan nyata. Mereka mendorong pemerintah memperluas pelatihan, memperbaiki fasilitas, serta memberikan dukungan teknis yang jelas kepada sekolah. Dengan penguatan pembelajaran inklusif, para pendidik yakin setiap siswa tanpa kecuali akan memiliki kesempatan berkembang sesuai potensi terbaiknya.
Penulis: Wasis Soeprapto
Ediotor: Arika Rahmania
Sumber: AI