
Sumber: Media Mahasiswa Indonesia
Jika kita sepakat bahwa setiap anak memiliki gaya belajar kognitif yang berbeda, mengapa kita sering menggunakan pendekatan "satu ukuran untuk semua" dalam pendidikan karakter? Konsep Differentiated Instruction atau pembelajaran berdiferensiasi sejatinya tidak hanya berlaku untuk matematika atau sains, tetapi juga dalam pembentukan moral.
Setiap anak membawa bagasi temperamen dan latar belakang keluarga yang unik. Ada siswa yang membutuhkan ketegasan dan struktur jelas untuk bisa disiplin. Namun, ada pula siswa sensitif yang justru akan "hancur" jika ditegur dengan keras dan lebih merespons pada pendekatan persuasif empat mata.
Guru yang berkomitmen tinggi menyadari bahwa keadilan dalam pendidikan bukanlah memperlakukan semua anak dengan sama persis, melainkan memberikan apa yang dibutuhkan oleh masing-masing individu untuk berkembang. Mengakui keunikan ini adalah bentuk penghormatan tertinggi guru terhadap harkat siswa. Dengan memetakan profil karakter siswa, guru dapat merancang intervensi moral yang presisi—menjadikan pendidikan karakter sebuah perjalanan personal yang menyentuh hati, bukan sekadar aturan sekolah yang kaku.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita