Pembelajaran Pascapandemi Masih Jadi Tantangan Guru
Meskipun pandemi telah berakhir, jejak panjangnya masih terasa kuat di ruang-ruang kelas Indonesia. Guru menjadi pihak yang paling merasakan perubahan drastis: pola belajar siswa berubah, motivasi menurun, dan kemampuan dasar yang sempat terputus selama pembelajaran jarak jauh kini menjadi pekerjaan rumah besar. Pascapandemi bukan berarti kembali normal justru menjadi fase baru yang menuntut adaptasi lebih dalam.
Di banyak sekolah, guru menghadapi fenomena learning loss yang signifikan. Siswa mengalami kesenjangan kemampuan, terutama dalam literasi dan numerasi. Tak sedikit pula yang mengalami perubahan karakter belajar: lebih mudah terdistraksi, sulit fokus, dan kurang disiplin karena terbiasa dengan pola belajar fleksibel selama pandemi. Guru kini harus merancang strategi pembelajaran yang jauh lebih kreatif agar suasana kelas bisa kembali hidup.
Pakar pendidikan global, Dr. John Hattie (University of Melbourne, 2023), menyebut bahwa keberhasilan pembelajaran pascapandemi sangat dipengaruhi kemampuan guru membangun kembali hubungan sosial dan emosional dengan siswa. “Pemulihan pendidikan bukan hanya soal akademik, tetapi tentang memulihkan keterhubungan antara guru dan murid,” tegasnya. Hal ini sejalan dengan situasi di banyak sekolah Indonesia, di mana pendampingan emosional sering kali menjadi kebutuhan utama.
Selain faktor psikologis, guru juga masih berhadapan dengan tantangan teknis. Dalam beberapa kasus, perangkat dan teknologi yang digunakan selama pandemi kini tidak lagi dioptimalkan, padahal kemampuan digital siswa dan guru semakin beragam. Guru berada di tengah persimpangan antara metode tradisional dan pembelajaran berbasis teknologi, yang keduanya harus diseimbangkan agar tidak terjadi ketertinggalan kompetensi.
Kesulitan lainnya adalah meningkatnya beban kerja. Guru harus melakukan asesmen berulang, memetakan ketertinggalan siswa satu per satu, serta mengejar target kurikulum yang padat. Situasi ini memerlukan dukungan kebijakan, pelatihan, dan pendampingan yang konsisten agar guru tidak terbebani secara berlebihan. Dengan segala tantangan tersebut, pembelajaran pascapandemi sebenarnya membuka peluang besar untuk reformasi pendidikan. Guru berharap pemerintah dan sekolah dapat terus memperkuat dukungan, memperluas pelatihan berbasis praktik, dan memberikan fleksibilitas dalam implementasi kurikulum. Pascapandemi seharusnya bukan masa krisis berkepanjangan, tetapi titik tolak untuk membangun pembelajaran yang lebih manusiawi, adaptif, dan relevan bagi generasi masa depan.
Penulis: Wasis Soeprapto
Ediotor: Arika Rahmania
Sumber: AI