Pembelajaran Berbasis Lingkungan Diangkat dalam Hari Guru
Peringatan Hari Guru 2025 menghadirkan semangat baru bagi para pendidik untuk menyoroti urgensi pembelajaran berbasis lingkungan sebagai pendekatan yang lebih relevan dan dekat dengan kehidupan siswa. Banyak guru menyatakan bahwa membawa siswa keluar dari ruang kelas dan mempertemukan mereka langsung dengan alam dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna. Pendekatan ini dipandang penting untuk membangun generasi yang sadar lingkungan di tengah meningkatnya isu krisis iklim.
Banyak guru mencatat bahwa kegiatan belajar di luar kelas seperti observasi alam, pengelolaan sampah, hingga proyek penghijauan memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual. Siswa mampu melihat langsung dampak tindakan manusia terhadap lingkungan, sehingga pemahaman mereka tidak berhenti pada teori. Namun, guru mengakui bahwa keterbatasan fasilitas, waktu, serta dukungan dari sekolah terkadang menjadi kendala dalam mengimplementasikan pembelajaran berbasis lingkungan secara rutin.
Sejumlah sekolah yang lebih maju dalam praktik ini menunjukkan hasil positif. Mereka mengintegrasikan pendidikan lingkungan ke berbagai mata pelajaran seperti IPA, IPS, hingga Bahasa Indonesia melalui proyek interdisipliner. Guru berharap model seperti ini dapat diperluas ke lebih banyak sekolah dengan dukungan kebijakan dan alokasi pendanaan yang memadai.
Menurut Prof. David Orr (2020) dari Oberlin College, Amerika Serikat, pembelajaran berbasis lingkungan adalah fondasi penting bagi pembangunan kesadaran ekologis generasi muda. Orr menegaskan bahwa siswa harus belajar “dari” lingkungan, bukan sebatas “tentang” lingkungan, agar mereka memahami relasi manusia dengan alam secara lebih utuh dan mampu bertindak secara berkelanjutan.
Sementara itu, Prof. Louise Chawla (2021) dari University of Colorado Boulder, yang dikenal sebagai pakar pendidikan lingkungan anak, menambahkan bahwa keterlibatan langsung siswa dalam aktivitas alam mampu menumbuhkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Ia menyebut bahwa pengalaman konkret seperti berkebun, memantau kualitas air, atau mengelola area hijau sekolah dapat meningkatkan empati ekologis serta membentuk kebiasaan peduli lingkungan sejak dini.
Dengan meningkatnya perhatian terhadap isu ekologi dalam momen Hari Guru 2025, para pendidik berharap pembelajaran berbasis lingkungan makin mendapatkan tempat strategis dalam kebijakan pendidikan nasional. Mereka percaya bahwa pendekatan ini tidak hanya menumbuhkan karakter peduli lingkungan, tetapi juga mempersiapkan generasi yang siap menghadapi tantangan global terkait keberlanjutan.
Penulis: Wasis Soeprapto
Ediotor: Arika Rahmania
Sumber: AI