Pascabencana, Gotong Royong Jadi Kekuatan Utama
Usai
bencana melanda, kondisi lingkungan yang porak-poranda menuntut kerja bersama
agar kehidupan dapat kembali berjalan. Warga terdampak bergotong royong
membersihkan puing bangunan, memperbaiki akses jalan, serta mendirikan hunian
sementara bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal. Dalam keterbatasan
sarana, semangat kebersamaan menjadi modal utama untuk bertahan dan memulai
kembali dari nol.
Gotong
royong juga melibatkan berbagai elemen masyarakat di luar wilayah terdampak.
Relawan, organisasi sosial, dunia usaha, serta pemerintah lokal bersinergi
menyalurkan bantuan pangan, layanan kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya.
Koordinasi lintas pihak ini mempercepat distribusi bantuan sekaligus
meminimalkan tumpang tindih, sehingga proses pemulihan dapat berjalan lebih
efektif dan merata.
Lebih
dari sekadar kerja fisik, gotong royong menjadi ruang pemulihan sosial dan
emosional. Aktivitas bersama menghadirkan rasa saling percaya, mengurangi
kecemasan, serta memulihkan ikatan komunitas yang sempat terguncang. Diskusi
warga, doa bersama, dan dukungan antar keluarga memperkuat daya lenting sosial
dalam menghadapi trauma pascabencana.
Dalam jangka panjang, semangat gotong royong berkembang menjadi fondasi pembangunan kembali yang berkelanjutan. Warga dilibatkan dalam perencanaan rekonstruksi, penerapan rumah tahan bencana, hingga pelatihan kesiapsiagaan untuk menghadapi risiko di masa depan. Dari reruntuhan, lahir kesadaran kolektif bahwa kebersamaan bukan hanya menyelamatkan hari ini, tetapi juga menyiapkan masyarakat untuk bangkit lebih kuat esok hari.
Author: Wasis Suprapto
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita