Optimalisasi Pendidikan Karakter untuk Menghapus Stigma ODHA di Sekolah
Sumber Gambar. https://diskominfo.pasuruankab.go.id/isiberita/tanamkan-pendidikan-karakter-sejak-usia-dini
Pendidikan
karakter memegang peranan penting dalam membentuk cara pandang siswa terhadap
ODHA. Guru dapat menyisipkan nilai empati dalam setiap kegiatan belajar. Siswa
perlu memahami bahwa ODHA adalah manusia yang memiliki hak sama. Dengan
pendidikan karakter, stigma dapat perlahan berkurang.
Guru dapat memulai dengan memperkenalkan nilai toleransi dan saling menghargai.
Nilai ini penting agar siswa tidak mudah menghakimi orang lain. Sikap terbuka
membuat siswa menerima keberagaman. Pendidikan karakter memperkuat kebiasaan
baik tersebut.
Aktivitas pembelajaran dapat dikemas dalam bentuk cerita moral. Cerita tentang
perjuangan ODHA dapat memperluas empati siswa. Pembelajaran berbasis cerita
lebih mudah dipahami. Siswa dapat mengambil pelajaran dari tokoh dalam cerita
tersebut.
Guru juga dapat menggunakan diskusi kelompok untuk memperkuat pemahaman.
Diskusi memberi ruang kepada siswa untuk berbagi pemikiran. Guru mengarahkan
dialog agar tetap positif dan beretika. Cara ini membantu mengembangkan sikap
inklusif.
Penilaian
sikap juga dapat diintegrasikan dalam proses pembelajaran. Guru mengamati
perilaku siswa selama berinteraksi. Catatan sikap ini dapat digunakan untuk
memberikan masukan. Pembiasaan sikap positif dapat tumbuh melalui evaluasi yang
konsisten.
Kegiatan
seperti proyek sosial dapat memperkaya pengalaman siswa. Mereka dapat membuat
slogan anti-stigma atau poster edukatif. Aktivitas kreatif membantu penguatan
pesan yang disampaikan guru. Proyek ini juga meningkatkan kebersamaan siswa.
Guru perlu memberikan apresiasi pada siswa yang menunjukkan sikap inklusif.
Penguatan positif dapat mendorong mereka terus berbuat baik. Apresiasi
sederhana dapat menjadi motivasi kuat. Dengan cara ini, budaya empatik semakin
terbentuk.
Jika
pendidikan karakter dilakukan secara konsisten, stigma terhadap ODHA di sekolah
akan berkurang. Siswa menjadi lebih matang dalam menyikapi perbedaan. Mereka
tumbuh sebagai pribadi yang adil dan penuh empati. Guru memegang peranan utama
dalam proses ini.
Author
: Naela Zulianti Ashlah
Editor : Naela Zulianti Ashlah