Mitigasi Stigma Sejak Dini: Mengajarkan Empati pada Siswa SD
Sumber: https://share.google/1tvFrvFUL9G3qSajZ
Stigma berarti menilai seseorang secara negatif hanya karena kondisi tertentu
yang mereka miliki, termasuk HIV/AIDS. Anak-anak perlu belajar sejak dini bahwa
teman yang hidup dengan HIV tidak boleh dijauhi atau ditakuti. Pendidikan
empati membantu mereka melihat manusia sebagai manusia, bukan berdasarkan
penyakitnya, dan itu membangun karakter yang peduli serta menghargai sesama.
Stigma sering muncul karena kesalahpahaman, terutama ketika anak mendengar
mitos dari orang dewasa, seperti anggapan keliru bahwa HIV menular hanya dengan
bersentuhan. Kekhawatiran yang tidak berdasar, seperti takut bermain bersama
atau berbagi tempat duduk, dapat membuat anak menjauhi temannya. Membongkar
sumber-sumber kesalahpahaman ini adalah langkah pertama untuk membangun
lingkungan yang lebih terbuka.
Kegiatan di kelas seperti membaca cerita, role-playing, atau berdiskusi tentang
situasi sosial dapat membantu anak menempatkan diri pada posisi orang lain.
Melalui aktivitas ini, mereka belajar memahami perasaan seseorang yang
diperlakukan tidak adil, serta menemukan cara-cara bersikap lebih inklusif
terhadap teman yang berbeda atau memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Penggunaan bahasa yang baik dan tidak merendahkan sangat penting. Misalnya,
guru dapat mengajarkan siswa untuk menggunakan istilah “orang yang hidup dengan
HIV” dibanding “penderita AIDS.” Bahasa positif ini menunjukkan bahwa orang
dengan HIV tetap memiliki kehidupan dan harapan, serta membantu menciptakan
budaya hormat dalam komunikasi sehari-hari.
Dengan mengajarkan empati dan penerimaan, sekolah dapat menjadi tempat yang
aman bagi semua anak, terlepas dari kondisi kesehatan mereka. Lingkungan
seperti ini membantu setiap siswa merasa dihargai dan dilindungi.