Metode Role-Play Dinilai Efektif Ajarkan Nilai Keadilan pada Siswa SD
Guru di berbagai sekolah dasar mulai menerapkan metode role-play untuk mengajarkan nilai HAM berbasis keadilan kepada siswa. Metode ini dinilai efektif karena membuat siswa mengalami sendiri situasi yang membutuhkan pengambilan keputusan adil. Guru menyiapkan skenario sederhana seperti berbagi mainan, menentukan waktu bermain, atau memilih ketua kelompok. Setiap siswa mendapat kesempatan memainkan peran yang berbeda agar mereka belajar memahami posisi orang lain. Dengan cara ini, konsep keadilan tidak hanya diajarkan sebagai teori tetapi dipraktikkan secara langsung.
Selama kegiatan role-play, siswa belajar mengekspresikan pendapat tanpa memaksakan kehendak. Mereka juga dilatih untuk mendengar pendapat teman sebelum memberikan keputusan akhir. Guru mengamati bahwa anak-anak yang cenderung mendominasi mulai belajar mengendalikan diri dan memberikan kesempatan kepada teman. Sementara siswa pemalu merasa lebih percaya diri karena suasana kegiatan dibuat aman dan menyenangkan. Interaksi ini membuat nilai toleransi dan penghargaan terhadap hak orang lain tumbuh secara alami.
Setelah kegiatan selesai, guru mengadakan sesi refleksi yang menjadi bagian penting dalam pembelajaran HAM. Pada sesi ini, siswa diminta menceritakan apa yang mereka rasakan saat mendapat peran tertentu. Banyak siswa mengaku baru menyadari bahwa keputusan yang tampak kecil bisa berdampak pada kenyamanan orang lain. Guru memberikan tambahan penjelasan mengenai hak setiap anak untuk diperlakukan adil dan tidak didiskriminasi. Proses refleksi ini memperkuat pemahaman anak terhadap nilai-nilai HAM.
Guru menilai bahwa metode role-play membantu menciptakan suasana kelas yang lebih harmonis. Konflik kecil yang biasanya terjadi akibat salah paham dapat berkurang karena siswa mulai terbiasa berdiskusi sebelum mengambil tindakan. Selain itu, role-play juga membantu mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan berpikir kritis pada siswa. Anak-anak menjadi lebih peka terhadap ketidakadilan dan berusaha memperbaikinya ketika melihat situasi yang tidak sesuai nilai HAM.
Melihat dampak positifnya, sekolah merencanakan untuk menjadikan role-play sebagai kegiatan rutin dalam pembelajaran PPKn, Bahasa Indonesia, dan tema-tema sosial lainnya. Guru-guru juga akan diberi pelatihan tambahan agar dapat mengembangkan skenario yang lebih variatif. Diharapkan, metode ini terus menjadi sarana efektif bagi siswa untuk mempraktikkan nilai HAM sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari. Pendidikan HAM sejak dini diyakini mampu membentuk karakter anak yang peduli, adil, dan menghargai perbedaan.
Author: Arika Rahmania
Editor: Arika Rahmania
Sumber: AI