Menumbuhkan Empati di Masa Pemulihan
Masa
pemulihan pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali rumah dan
infrastruktur, tetapi juga tentang menumbuhkan empati di tengah masyarakat yang
tengah berduka. Rasa saling memahami dan kepedulian terhadap penderitaan orang
lain menjadi fondasi penting agar para penyintas merasa didukung dan tidak
terasing dalam menghadapi kehilangan. Empati menghadirkan ruang aman bagi warga
untuk berbagi cerita dan emosi.
Di
tingkat keluarga dan komunitas, empati terwujud melalui kehadiran
sederhana—mendengarkan keluh kesah, menemani mereka yang berduka, serta
membantu aktivitas sehari-hari. Kegiatan bersama seperti memasak, membersihkan
lingkungan, atau berdoa kolektif menjadi sarana untuk memulihkan ikatan sosial
yang sempat terguncang. Interaksi ini membantu mengurangi rasa kesepian dan
memperkuat solidaritas.
Relawan,
guru, tenaga kesehatan, dan tokoh masyarakat berperan penting dalam menanamkan
sikap empati melalui pendekatan humanis. Pendampingan psikososial, aktivitas
kreatif untuk anak-anak, serta edukasi bagi orang tua membantu masyarakat
memahami reaksi trauma dan cara saling mendukung secara sehat. Pengetahuan ini
mencegah stigma sekaligus mempercepat proses penyembuhan emosional.
Media
dan platform digital juga dapat menjadi alat untuk menumbuhkan empati yang
konstruktif. Cerita inspiratif para penyintas, laporan transparan tentang
penggunaan bantuan, serta kampanye solidaritas mendorong publik untuk terlibat
secara bertanggung jawab. Dengan literasi informasi yang baik, empati publik
dapat diarahkan menjadi dukungan nyata yang tepat sasaran.
Seiring
waktu, empati berkembang menjadi energi kolektif yang menggerakkan pemulihan
jangka panjang. Warga mulai saling menguatkan dalam rekonstruksi, pemulihan
ekonomi, dan peningkatan kesiapsiagaan bencana. Dari kepedulian lahir
kepercayaan, dari kepercayaan tumbuh ketangguhan bersama.
Menumbuhkan empati di masa pemulihan berarti menanam benih bagi masyarakat yang lebih peduli dan tangguh. Ketika rasa kemanusiaan dijadikan pijakan, proses bangkit dari bencana tidak hanya menghasilkan lingkungan yang pulih, tetapi juga komunitas yang lebih kuat dan saling terhubung.
Author: Wasis Suprapto
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita