Menilai Dengan Adil: Wujud Integritas Guru di Sekolah
Integritas guru tidak
hanya tercermin dari pengajaran materi akademik, tetapi juga dari cara mereka
menilai siswa. Penilaian yang adil menjadi cermin nyata dari kejujuran,
tanggung jawab, dan profesionalisme guru, sekaligus membentuk budaya integritas
di sekolah.
Prof. Isabelle Laurent,
pakar pendidikan karakter dari Université de Genève, Swiss, pada 2025,
menegaskan, “Siswa meniru perilaku guru yang mereka saksikan. Penilaian yang
adil tidak hanya mengukur kemampuan akademik, tetapi juga mengajarkan nilai
moral. Guru yang konsisten menegakkan keadilan menumbuhkan rasa hormat dan
kejujuran pada siswa.”
Dr. Michael Schneider,
ahli etika pendidikan dari University of Freiburg, Jerman, menambahkan bahwa
penilaian adil mencegah munculnya praktik curang atau manipulatif di kalangan
siswa. “Ketika guru transparan dalam kriteria penilaian dan berlaku sama untuk
semua siswa, mereka belajar menilai diri sendiri dan menghargai integritas,”
katanya.
Di lapangan, praktik
penilaian adil dapat diwujudkan melalui rubrik yang jelas, umpan balik
konstruktif, serta keterbukaan guru terhadap pertanyaan dan keberatan siswa.
Hal ini juga mendorong siswa untuk aktif belajar dan bertanggung jawab atas
hasil karya mereka sendiri.
Selain aspek akademik,
guru juga menanamkan nilai kejujuran melalui pengawasan yang konsisten,
pengakuan atas usaha siswa, dan contoh nyata dalam interaksi sehari-hari.
Keteladanan guru membuat integritas bukan sekadar teori, tetapi bagian dari
budaya sekolah yang nyata.
Dengan menilai secara
adil, guru tidak hanya mendidik siswa secara akademik, tetapi juga membentuk
karakter yang jujur, bertanggung jawab, dan berintegritas. Langkah kecil ini
menjadi fondasi penting bagi generasi muda untuk menolak praktik curang dan korupsi
di masa depan.
Author: Wasis Suprapto
Editor: Arika Rahmania
Sumber: AI