Mengukur Keterlibatan Siswa SD dalam Pembelajaran yang Mendorong Kesadaran HAM
Kesadaran HAM hanya dapat ditanamkan melalui pembelajaran
aktif dan partisipatif. Oleh karena itu, mengukur tingkat keterlibatan siswa
(meliputi keterlibatan kognitif, afektif, dan perilaku) menjadi indikator
penting untuk menilai efektivitas metodologi yang digunakan dalam Pendidikan
HAM.
Metodologi pengukuran menggunakan observasi partisipatif di
kelas, didukung oleh instrumen skala Likert yang dimodifikasi untuk mengukur
frekuensi siswa mengajukan pertanyaan kritis, berdiskusi, dan mengambil
inisiatif yang terkait dengan HAM. Keterlibatan diukur dalam konteks aktivitas
yang berbeda.
Temuan keterlibatan kognitif menunjukkan peningkatan
signifikan saat materi disajikan melalui studi kasus yang kompleks dan role
playing. Sebaliknya, keterlibatan rendah terjadi saat guru menggunakan metode
ceramah, karena HAM dilihat sebagai pengetahuan yang harus dihafal, bukan
dianalisis.
Analisis keterlibatan afektif (empati) dan perilaku (aksi
nyata) berkorelasi kuat dengan iklim kelas yang inklusif. Kelas yang menerapkan
Disiplin Positif dan memberikan kebebasan bersuara menunjukkan tingkat
inisiatif yang lebih tinggi dalam menyelesaikan konflik teman sebaya secara
adil.
Faktor penghambat utama keterlibatan adalah takut membuat
kesalahan dan rasa malu ketika berhadapan dengan isu sensitif. Selain itu,
dominasi guru dalam diskusi dan materi ajar yang terlalu berorientasi pada
nilai-nilai abstrak juga menghambat keterlibatan siswa.
Rekomendasi metode yang efektif adalah mendorong
pembelajaran berbasis pengalaman dan refleksi. Guru harus menciptakan forum
kelas di mana tidak ada jawaban yang salah, dan memfasilitasi debat sederhana
atau simulasi kompromi, sehingga siswa terbiasa mempraktikkan keterampilan HAM.
Author:
Firstlyta Bulan Aulya Ahmad
Editor: Arika Rahmania
Sumber: AI