Mengemas Mitigasi Bencana ke dalam Mata Pelajaran Tematik SD
Model pembelajaran tematik di sekolah dasar menawarkan fleksibilitas yang luar biasa untuk menyisipkan pesan-pesan mitigasi bencana tanpa terasa seperti mata pelajaran terpisah. Mitigasi bencana dapat masuk ke dalam tema "Lingkungan Sahabat Kita" atau "Peristiwa Alam" dengan cara yang sangat halus dan terintegrasi secara holistik. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, siswa bisa diajak membaca teks prosedur tentang cara berlindung di bawah meja saat terjadi gempa. Sementara dalam mata pelajaran IPA, konsep energi dan getaran dapat dikaitkan langsung dengan fenomena gelombang seismik yang dihasilkan oleh pergerakan lempeng. Pengemasan seperti ini membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa melihat relevansi langsung antara materi pelajaran dengan keamanan diri mereka.
Guru kelas harus memiliki kemampuan untuk memetakan kompetensi dasar yang sekiranya dapat dikaitkan dengan unsur-unsur kesiapsiagaan bencana secara kreatif. Misalnya, dalam pelajaran Matematika, siswa dapat belajar menghitung jarak aman dari pantai atau menghitung durasi waktu evakuasi dari kelas ke titik kumpul. Hal ini secara tidak langsung melatih kepekaan spasial dan manajemen waktu siswa dalam situasi darurat yang penuh tekanan. Pembelajaran tematik memungkinkan isu bencana dibahas dari berbagai sudut pandang, mulai dari aspek sains, sosial, hingga aspek seni dan budaya. Pendekatan ini memastikan bahwa pemahaman siswa tentang mitigasi menjadi lebih komprehensif dan tidak terfragmentasi dalam satu disiplin ilmu saja.
Menurut Dr. Henny Wilardjo, seorang pakar kurikulum, "Integrasi mitigasi bencana dalam tema harian di kelas akan membentuk insting keselamatan siswa secara lebih natural dibandingkan melalui hafalan teori semata." Pernyataan ini sangat relevan mengingat karakteristik siswa SD yang lebih mudah belajar melalui pembiasaan dan konteks yang nyata di sekitar mereka. Ketika mitigasi menjadi bagian dari percakapan harian di kelas, rasa takut terhadap bencana akan berganti menjadi sikap waspada yang terkendali. Siswa tidak lagi menganggap simulasi bencana sebagai permainan, melainkan sebagai protokol penting yang harus dikuasai demi kebaikan bersama. Inilah esensi dari pendidikan tematik yang berbasis pada kebutuhan hidup nyata (life skills).
Pemanfaatan media lagu dan permainan dalam pembelajaran tematik juga sangat efektif untuk menanamkan langkah-langkah mitigasi pada siswa kelas rendah (1-3 SD). Lagu dengan lirik "kalau ada gempa lindungi kepala" adalah contoh sederhana namun sangat kuat dampaknya dalam ingatan motorik anak-anak. Di kelas tinggi, siswa dapat diberikan proyek membuat maket rumah tahan gempa atau peta jalur evakuasi sekolah sebagai bagian dari nilai seni budaya dan prakarya. Melalui karya seni tersebut, siswa mengekspresikan pemahaman mereka tentang keamanan struktur bangunan dengan cara yang menyenangkan. Semua aktivitas ini bertujuan untuk menanamkan budaya safety first dalam setiap aspek kehidupan siswa di sekolah.
Akhirnya, pengemasan mitigasi dalam tema harian menuntut kolaborasi yang solid antar guru dan kesiapan sumber daya sekolah yang memadai. Bahan ajar tematik harus terus diperbarui sesuai dengan perkembangan teknologi kebencanaan dan kearifan lokal daerah masing-masing. Evaluasi berkala terhadap efektivitas penyampaian materi mitigasi dalam tema tertentu sangat diperlukan untuk melihat sejauh mana perubahan perilaku siswa. Jika dilakukan dengan konsisten, maka setiap jam pelajaran di sekolah sebenarnya adalah jam pelajaran untuk menyelamatkan nyawa di masa depan. Kita perlu memastikan bahwa kurikulum tematik kita benar-benar mencerminkan kondisi Indonesia yang merupakan laboratorium bencana alam dunia.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita