Mengatasi Bullying dengan Memperkuat Keterampilan Sosial
Kasus perundungan atau bullying di tingkat sekolah dasar sering kali ditangani dengan pendekatan disiplin yang bersifat reaktif dan punitif, seperti pemberian sanksi atau teguran keras kepada pelaku. Namun, dalam perspektif pendidikan yang lebih komprehensif, akar masalah dari bullying sering kali terletak pada rendahnya keterampilan sosial dan kecerdasan emosional, baik pada pelaku, korban, maupun saksi mata (bystander). Anak-anak yang tidak memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosinya secara sehat atau gagal memahami batasan pribadi orang lain cenderung menggunakan kekuasaan fisik atau verbal untuk berinteraksi. Oleh karena itu, strategi jangka panjang yang paling efektif untuk memutus rantai perundungan bukanlah sekadar memperketat pengawasan, melainkan memperkuat keterampilan sosial siswa di dalam kelas secara sistematis. Dengan membekali anak kemampuan bernegosiasi, berempati, dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan, kita sedang membangun benteng pertahanan internal dalam diri setiap siswa agar mereka mampu menjalin hubungan yang saling menghargai.
Penguatan keterampilan sosial dapat diintegrasikan melalui program pembelajaran sosial-emosional atau Social Emotional Learning (SEL) yang dilakukan secara konsisten setiap harinya di sekolah. Guru dapat mengajarkan teknik "pesan-saya" (I-messages), di mana siswa dilatih untuk mengungkapkan perasaan mereka dengan cara yang tidak menyerang, seperti: "Saya merasa sedih saat kamu mengambil pensil saya tanpa izin." Teknik komunikasi ini sangat efektif untuk mencegah eskalasi konflik kecil menjadi tindakan perundungan yang lebih serius di kemudian hari bagi para siswa. Selain itu, melatih keterampilan asertif pada korban potensial juga sangat penting agar mereka berani berkata "tidak" dan mencari bantuan tanpa rasa takut yang berlebihan. Pendidikan dasar harus menciptakan ekosistem di mana perilaku baik diapresiasi secara terbuka, sehingga norma sosial yang terbentuk di sekolah adalah norma yang mengedepankan kerja sama dan kebaikan hati antar sesama teman sebaya.
Pakar psikologi perkembangan, Barbara Coloroso, dalam teorinya mengenai perundungan menyatakan bahwa "Bullying adalah perilaku yang dipelajari, maka ia juga bisa 'tidak dipelajari' melalui pengembangan kemauan moral dan rasa kasihan terhadap sesama." Kutipan ini mempertegas bahwa perundungan bukanlah sifat bawaan, melainkan hasil dari lingkungan yang mungkin kurang memberikan contoh interaksi sosial yang sehat bagi anak-anak. Di sekolah, guru memiliki peran vital untuk menjadi model peran dalam menunjukkan cara berkomunikasi yang penuh hormat dan menghargai keberagaman setiap individu yang ada di kelas. Melalui kegiatan bermain peran atau simulasi situasi sosial, siswa diajak untuk melihat dampak emosional dari tindakan mereka terhadap orang lain secara langsung dan mendalam. Ketika empati sudah tumbuh subur dalam hati siswa, dorongan untuk melakukan tindakan yang menyakiti teman sendiri akan berkurang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Inilah esensi dari pencegahan perundungan yang berbasis pada pembangunan karakter dan kemanusiaan siswa.
Selain itu, peran "saksi mata" atau teman sebaya yang melihat kejadian perundungan harus diperkuat agar mereka berani menjadi pembela bagi teman yang tertindas. Sering kali perundungan terus terjadi karena orang-orang di sekitar hanya diam atau bahkan memberikan apresiasi terhadap tindakan pelaku secara tidak sengaja melalui tawa atau perhatian. Guru perlu mengajarkan siswa bagaimana cara menjadi kawan yang suportif dan bagaimana melaporkan tindakan yang tidak benar dengan cara yang aman dan bertanggung jawab sepenuhnya. Dengan membangun solidaritas yang positif di kelas, pelaku perundungan akan kehilangan "panggung" dan dukungan sosial yang mereka cari selama ini di lingkungan sekolah. Pelatihan kepemimpinan dan kerja sama tim juga bisa menjadi sarana untuk mengalihkan energi siswa yang dominan ke arah kegiatan yang konstruktif dan bermanfaat bagi banyak orang. Perubahan budaya sekolah secara keseluruhan adalah kunci utama untuk menciptakan lingkungan belajar yang bebas dari rasa takut dan intimidasi bagi semua anak.
Pada akhirnya, mengatasi perundungan melalui penguatan keterampilan sosial adalah upaya untuk memanusiakan manusia sejak usia yang sangat dini dan sangat belia. Kita ingin melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki jiwa yang lembut dan tangan yang selalu siap membantu sesama manusia. Pendidikan dasar adalah fondasi di mana nilai-nilai toleransi dan persaudaraan harus ditanamkan dengan sangat kuat agar tidak mudah goyah oleh pengaruh eksternal yang negatif. Mari kita jadikan setiap ruang kelas sebagai laboratorium kasih sayang, di mana setiap anak merasa diterima, dihargai, dan aman untuk menjadi diri mereka sendiri sepenuhnya. Dengan keterampilan sosial yang mumpuni, anak-anak kita akan tumbuh menjadi agen perdamaian yang mampu membawa perubahan positif bagi masyarakat di masa depan mereka nanti. Mari kita mulai investasi pada kecerdasan hati siswa kita hari ini demi terciptanya sekolah yang lebih damai dan penuh dengan kehangatan cinta kasih.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita