Mengapa Pepera Bukan Akhir: Rekonstruksi Narasi Trikora dan Integrasi Papua
Perdebatan seputar rekonstruksi narasi Trikora juga menyentuh isu penting:
kelanjutan perjuangan pasca Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat). Pepera pada
tahun 1969 secara formal mengukuhkan integrasi Irian Barat ke dalam NKRI.
Namun, rekonstruksi narasi harus menjelaskan bahwa integrasi fisik hanyalah
awal dari perjuangan yang lebih panjang. Narasi Bela Negara harus diperluas
hingga mencakup tantangan pembangunan dan persatuan di Papua. Kedaulatan sejati
adalah kedaulatan yang dirasakan oleh seluruh rakyat.
Trikora bukan hanya tentang penarikan mundur Belanda, tetapi juga tentang
janji untuk membangun dan mensejahterakan rakyat Papua. Nilai Bela Negara
pasca-Trikora bergeser menjadi perjuangan untuk keadilan sosial dan pemerataan
ekonomi. Rekonstruksi narasi harus menyoroti peran pemerintah dan masyarakat
dalam proses integrasi pasca-konflik. Ini adalah pelajaran tentang bagaimana
negara harus merawat hasil perjuangannya. Persatuan harus diikuti dengan
pembangunan yang merata.
Penting untuk mengulas secara jujur dan berimbang proses Pepera itu sendiri
dalam narasi historis yang direkonstruksi. Perdebatan mengenai legitimasi dan
pelaksanaannya harus diajarkan secara akademis. Ini adalah bagian dari upaya
rekonsiliasi sejarah dan penguatan narasi nasional yang inklusif. Peninjauan
kembali arsip dan kesaksian lokal di Papua sangat diperlukan untuk melengkapi
gambaran. Sejarah yang utuh adalah sejarah yang berani menghadapi semua fakta.
Bela Negara dalam konteks Papua masa kini adalah membangun kepercayaan dan
mengatasi kesenjangan pembangunan. Perjuangan untuk menjaga persatuan adalah
perjuangan melawan ketidakadilan dan diskriminasi. Narasi Trikora harus menjadi
jembatan untuk memahami akar sejarah konflik dan mencari solusi yang damai.
Semangat Trikora tentang persatuan harus diwujudkan dalam kebijakan yang
berpihak kepada rakyat Papua. Integrasi yang berhasil adalah integrasi yang
berbasis hati nurani.
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah harus berkolaborasi untuk menyusun
narasi sejarah lokal Papua yang terintegrasi dengan narasi Trikora. Kisah-kisah
pahlawan lokal Papua yang mendukung Trikora harus diangkat dan dihormati. Hal
ini akan memperkuat rasa kepemilikan dan mengurangi narasi separatisme yang
eksklusif. Sejarah harus menjadi alat pemersatu, bukan pemisah. Pendidikan
sejarah yang inklusif adalah investasi perdamaian.
Rekonstruksi narasi Trikora harus menjadi momentum untuk refleksi nasional
tentang makna persatuan. Perjuangan merebut Irian Barat mengajarkan bahwa
setiap jengkal tanah air sangat berharga dan harus dipertahankan. Konsep Bela
Negara harus merangkul tugas untuk memastikan kesejahteraan seluruh warga
negara Indonesia di mana pun mereka berada. Inilah esensi dari janji
kemerdekaan yang harus terus kita tunaikan.
Para akademisi dan tokoh masyarakat di Papua diundang secara khusus untuk berpartisipasi aktif dalam proses rekonstruksi narasi ini. Perspektif mereka adalah kunci untuk menciptakan narasi yang otentik dan diterima oleh semua pihak. Hanya dengan dialog yang terbuka, narasi Bela Negara dan Trikora dapat menjadi warisan yang mempersatukan bangsa. Mari kita jadikan sejarah sebagai panduan menuju Indonesia yang adil dan makmur.