Mengapa Indonesia Butuh Lebih Banyak “Sekolah Aman Bencana”?
Sumber:
Gemini AI
Indonesia
merupakan salah satu negara dengan tingkat risiko bencana tertinggi di dunia.
Letaknya di pertemuan tiga lempeng tektonik besar, kondisi geografis kepulauan,
serta iklim tropis menjadikan Indonesia rentan terhadap gempa bumi, tsunami,
banjir, tanah longsor, letusan gunung api, hingga angin ekstrem. Dalam konteks
ini, sekolah sebagai tempat berkumpulnya jutaan anak setiap hari berada pada
posisi yang sangat rentan. Ketika bencana terjadi, sekolah yang tidak siap
dapat berubah dari ruang aman menjadi lokasi dengan risiko tinggi terhadap
keselamatan jiwa.
Kebutuhan akan
Sekolah Aman Bencana (SAB) muncul dari fakta bahwa anak-anak adalah kelompok
paling rentan dalam situasi darurat. Secara fisik, mereka memiliki keterbatasan
untuk menyelamatkan diri secara mandiri. Secara psikologis, mereka lebih mudah
mengalami trauma berkepanjangan. Sekolah yang tidak memiliki sistem
kesiapsiagaan, bangunan aman, dan prosedur darurat yang jelas berpotensi
memperbesar dampak bencana terhadap peserta didik. Oleh karena itu, SAB bukan
sekadar program tambahan, melainkan kebutuhan mendesak untuk perlindungan hak
dasar anak atas keselamatan.
Sekolah Aman
Bencana juga penting karena sekolah memiliki fungsi strategis sebagai pusat
edukasi dan pembentukan budaya. Anak-anak yang dibekali pengetahuan kebencanaan
sejak dini akan tumbuh menjadi individu yang sadar risiko dan tanggap terhadap
lingkungan. Sekolah dapat menanamkan kebiasaan aman, seperti mengenali tanda
bahaya, mengikuti jalur evakuasi, dan tidak panik saat terjadi bencana. Dengan
demikian, SAB tidak hanya melindungi siswa di lingkungan sekolah, tetapi juga
berdampak pada kesiapsiagaan keluarga dan komunitas yang lebih luas.
Sayangnya, masih
banyak sekolah di Indonesia yang belum memenuhi standar aman bencana. Faktor
keterbatasan anggaran, minimnya pemahaman kebencanaan, serta ketimpangan
pembangunan antarwilayah menjadi hambatan utama. Sekolah di daerah terpencil
dan tertinggal sering kali berada di wilayah rawan bencana tanpa dukungan
infrastruktur memadai. Kondisi ini mempertegas urgensi memperluas implementasi
Sekolah Aman Bencana secara merata, bukan hanya di perkotaan atau daerah
tertentu.
Lebih banyak
Sekolah Aman Bencana juga berarti investasi pada keberlanjutan pendidikan.
Bencana yang merusak sekolah sering kali menyebabkan proses belajar terhenti
dalam waktu lama. Anak-anak kehilangan akses pendidikan, dan ketertinggalan
belajar semakin melebar. Dengan kesiapsiagaan yang baik, sekolah dapat
meminimalkan gangguan pembelajaran, baik melalui bangunan yang lebih tahan
bencana maupun rencana pembelajaran darurat.
Pada akhirnya,
Indonesia membutuhkan lebih banyak Sekolah Aman Bencana karena keselamatan dan
pendidikan anak tidak boleh dipertaruhkan. SAB adalah wujud nyata komitmen
negara dalam melindungi generasi masa depan. Dengan memperluas implementasinya,
Indonesia tidak hanya merespons risiko bencana, tetapi juga membangun sistem
pendidikan yang lebih tangguh, berkelanjutan, dan berkeadilan.
Editor: Firstlyta
Bulan