MENGAJARKAN ANAK SD TENTANG BATASAN KONTAK FISIK YANG AMAN
Sumber gambar: https://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/ilustrasi-kekerasan-seksual-di_211216150348-105.jpg
Anak usia SD perlu memahami batasan
kontak fisik yang aman. Mereka perlu tahu bahwa tidak semua kontak fisik baik
dilakukan. Guru dapat menjelaskan dengan bahasa sederhana bahwa tubuh setiap
orang berharga. Anak juga perlu tahu perbedaan antara sentuhan aman dan tidak aman.
Pendidikan ini dapat membantu mencegah tindakan berbahaya. Pemahaman ini juga
penting dalam konteks kesehatan. Anak menjadi lebih waspada terhadap situasi
yang tidak nyaman.
Guru dapat menggunakan ilustrasi
kartun untuk menjelaskan batasan. Kartun membuat materi lebih mudah diterima
anak. Gambar menunjukkan situasi yang aman seperti berjabat tangan. Guru juga
dapat menunjukkan situasi yang tidak aman seperti menyentuh luka terbuka.
Dengan visual, anak memahami materi tanpa rasa takut. Pembelajaran menjadi
lebih manusiawi. Pendekatan ini membuat anak lebih mengingat materi.
Pengajaran tentang kontak fisik aman
juga dapat dikaitkan dengan edukasi HIV. Anak perlu tahu bahwa menyentuh luka
berdarah harus dihindari. Guru harus menekankan bahwa HIV tidak menular melalui
sentuhan biasa. Dengan demikian, anak tidak takut berlebihan terhadap orang
lain. Mereka belajar menjaga diri secara wajar. Pemahaman ini menghindarkan
stigma. Prinsip keselamatan tetap terjaga.
Orang tua juga harus memperkuat
materi tentang batasan fisik di rumah. Mereka dapat menjelaskan bahwa setiap
orang memiliki hak atas tubuhnya sendiri. Anak perlu diajarkan untuk berkata
“tidak” jika merasa tidak nyaman. Orang tua dapat memberikan contoh melalui
situasi sederhana. Diskusi kecil dapat dilakukan sebelum tidur. Dengan begitu,
anak lebih siap menghadapi kehidupan sosial. Edukasi menjadi lebih konsisten.
Pengetahuan tentang batasan kontak fisik aman membentuk anak menjadi pribadi yang berani. Mereka tidak takut melaporkan jika mengalami situasi berbahaya. Sikap ini sangat penting untuk keselamatan diri. Selain itu, anak juga belajar menghargai tubuh orang lain. Nilai-nilai ini mendukung perkembangan karakter positif. Edukasi ini menjadi bagian penting dalam literasi kesehatan. Upaya ini memberikan perlindungan bagi anak.
Author:
Adinda Budi Julianti
Editor:
Nadia Anike Putri