Menemukan Pesan Pelestarian Alam dalam Perjalanan Isra
Mungkin belum banyak yang
menyoroti sisi ekologis dari peristiwa Isra Mi'raj, namun penggambaran tentang
keindahan surga, pohon Sidratul Muntaha, hingga sungai-sungai yang dilihat Nabi
di langit memberikan indikasi kuat tentang pentingnya kelestarian alam.
Sidratul Muntaha, yang secara bahasa berarti "pohon bidara tempat
perhentian terakhir", dipilih sebagai simbol batas tertinggi alam semesta.
Penggunaan simbol pohon dalam peristiwa paling sakral dalam Islam ini
menunjukkan bahwa alam—khususnya tumbuh-tumbuhan—memiliki posisi yang sangat
terhormat dalam kosmologi Islam. Hal ini seharusnya memicu kesadaran mahasiswa
akan tanggung jawab ekologis sebagai khalifah di bumi.
Dalam studi lingkungan,
kita mengenal konsep keberlanjutan yang seringkali hanya didekati secara teknis
dan ekonomis. Namun, Isra Mi'raj menawarkan pendekatan "ekologi
spiritual", di mana menjaga alam dianggap sebagai bagian dari menjaga
amanah Tuhan. Jika di langit saja Nabi diperlihatkan pemandangan alam yang
begitu indah dan terjaga, maka sudah sepatutnya kita sebagai penghuni bumi
berusaha mereplikasi keasrian tersebut dengan tidak merusak lingkungan.
Mahasiswa sebagai agen perubahan harus menjadi garda terdepan dalam isu-isu
lingkungan, karena kerusakan alam yang terjadi saat ini merupakan cermin dari
krisis spiritualitas manusia yang kehilangan koneksi dengan pencipta alam
tersebut.
Selama perjalanan Isra
dari Makkah ke Yerusalem, Nabi melewati hamparan bumi yang menjadi saksi
sejarah. Persinggahan di Masjidil Aqsa juga mengingatkan kita pada pentingnya
menjaga tanah yang diberkati (barakna hawlahu). Keberkahan sebuah tempat
tidak hanya bersifat metafisik, tetapi juga fisik, yaitu tanah yang subur, air
yang bersih, dan udara yang sehat. Oleh karena itu, bagi mahasiswa muslim,
memperjuangkan kelestarian lingkungan hidup adalah bentuk nyata dari meneladani
perjalanan Nabi. Kita tidak bisa mengklaim mencintai Nabi dan merayakan Isra
Mi'raj jika di saat yang sama kita menjadi penyumbang kerusakan lingkungan
melalui gaya hidup konsumtif dan tidak bertanggung jawab.
Lebih jauh lagi, gambaran
air dan sungai di surga yang dilihat Nabi saat Mi'raj melambangkan sumber
kehidupan. Di tengah krisis air global yang diprediksi akan menjadi konflik
besar di masa depan, nilai-nilai Isra Mi'raj harus ditransformasikan menjadi aksi
nyata dalam konservasi air dan energi. Kampus harus menjadi laboratorium hijau
di mana nilai-nilai spiritual ini diterjemahkan ke dalam riset-riset teknologi
ramah lingkungan. Perjalanan vertikal Nabi menuju langit seharusnya menyadarkan
kita bahwa bumi adalah titipan yang harus dijaga kualitasnya agar tetap layak
huni bagi generasi-generasi mendatang yang juga ingin melakukan
"perjalanan" mereka sendiri.
Sebagai simpulan, Isra
Mi'raj bukan hanya tentang perjalanan antar ruang, tetapi juga tentang
penghargaan terhadap ciptaan Tuhan yang ada di ruang tersebut. Marilah kita
jadikan peringatan ini sebagai momentum untuk memulai gaya hidup hijau (green
lifestyle) di lingkungan kampus dan tempat tinggal kita. Dengan menjaga pohon,
menghemat energi, dan mengurangi limbah, kita sebenarnya sedang memuliakan
simbol-simbol yang diperlihatkan Tuhan kepada Nabi di Sidratul Muntaha.
Kesadaran ekologis yang berlandaskan spiritualitas akan jauh lebih kuat dan
bermakna dibandingkan sekadar mengikuti tren global, karena hal itu merupakan
bagian dari pengabdian kita sebagai hamba Allah.
Editor : Ihza Latifatun
Ni’mah