Meneladani Sikap Rasulullah dalam Menyikapi Perbedaan di Kampus
Perbedaan pandangan, latar belakang, dan pemikiran merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan kampus. Dalam menyikapi realitas tersebut, sikap bijaksana dan beretika menjadi kebutuhan utama. Keteladanan Rasulullah SAW hadir sebagai rujukan dalam membangun sikap dewasa dan inklusif dalam menghadapi perbedaan di lingkungan akademik.
Al-Qur’an menegaskan prinsip keberagaman sebagai sunnatullah melalui firman Allah, “Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal” (QS. Al-Hujurat: 13). Ayat ini menjadi landasan teologis dalam memandang perbedaan sebagai ruang saling memahami, bukan sumber konflik.
Keteladanan Rasulullah SAW sebagai panutan umat ditegaskan dalam firman Allah, “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” (QS. Al-Ahzab: 21). Rasulullah mencontohkan sikap menghargai perbedaan pendapat, bermusyawarah, dan mengedepankan keadilan dalam menyelesaikan persoalan sosial.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, “Orang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada orang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka” (HR. Ibn Majah). Hadis ini menjadi pedoman dalam membangun interaksi kampus yang inklusif dan penuh kesabaran.
Penerapan sikap Rasulullah dalam menyikapi perbedaan di kampus tercermin melalui budaya dialog ilmiah yang terbuka, penghormatan terhadap kebebasan akademik, serta penyelesaian perbedaan secara musyawarah dan beradab. Sikap ini mencegah lahirnya konflik destruktif dan memperkuat solidaritas civitas akademika.
Al-Ghazali menegaskan bahwa kebijaksanaan dalam bersikap dan kemampuan mengendalikan emosi merupakan bagian dari akhlak mulia yang harus dimiliki oleh insan berilmu (Al-Ghazali, 2015). Oleh karena itu, meneladani sikap Rasulullah dalam menyikapi perbedaan menjadi fondasi penting bagi terciptanya kampus yang damai dan berkeadaban.
Dengan meneladani sikap Rasulullah SAW, kampus diharapkan mampu menjadi ruang belajar yang menghargai perbedaan, menumbuhkan toleransi, dan melahirkan generasi akademik yang dewasa secara intelektual maupun moral.
Daftar Pustaka
Al-Qur’an al-Karim. (2019). Surah Al-Hujurat ayat 13; Surah Al-Ahzab ayat 21. Jakarta: Kementerian Agama Republik Indonesia.
Ibn Majah. (2009). Sunan Ibn Majah. Riyadh: Darussalam.
Al-Ghazali. (2015). Ihya’ Ulumuddin. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah.
Penulis : Wasis Suprapto
Editor : Naela Zulianti Ashlah