Meneladani Keteguhan Abu Bakar: Melawan Arus Skeptisisme di Era Post-Truth
Ketika Nabi Muhammad SAW
menceritakan perjalanan Isra’ Mi’raj, reaksi penduduk Mekah saat itu sangatlah
ekstrem. Ada yang tertawa mengejek, ada yang menuduh Nabi sudah gila, bahkan
ada pengikut Nabi yang mulai goyah imannya. Di tengah riuh rendah cemoohan
tersebut, muncul sosok Abu Bakar yang dengan tenang berkata, "Jika
Muhammad yang mengatakannya, maka itu benar." Keberanian Abu Bakar ini
bukan sekadar ketaatan buta, melainkan hasil dari pengenalan yang mendalam
terhadap karakter Nabi yang tidak pernah berbohong. Di sinilah gelar Ash-Shiddiq
(yang membenarkan) disematkan kepadanya.
Konteks ini sangat
relevan dengan dunia kita hari ini yang sering disebut era post-truth,
di mana kebenaran seringkali dikalahkan oleh narasi yang viral atau opini
publik yang keras. Kita hidup di masa di mana hoaks bisa dianggap kebenaran
hanya karena dibagikan ribuan kali, sementara kebenaran yang asli seringkali
tenggelam karena tidak populer. Karakter Abu Bakar mengajarkan kita untuk
memiliki integritas intelektual—yakni kemampuan untuk tetap berpegang pada
kebenaran meskipun seluruh dunia menentangnya. Kita butuh filter yang kuat di
dalam hati agar tidak mudah terombang-ambing oleh tren yang belum tentu benar.
Seringkali di kantor atau
lingkungan sosial, kita merasa tertekan untuk mengikuti arus mayoritas agar
dianggap "normal" atau "keren". Namun, kisah Abu Bakar
mengingatkan bahwa menjadi benar lebih penting daripada menjadi populer. Mempercayai
sesuatu yang di luar nalar pada masa itu membutuhkan keberanian besar, sama
seperti keberanian kita hari ini untuk tetap bersikap jujur di tengah
lingkungan yang korup atau penuh kepalsuan. Integritas adalah barang mahal yang
harus kita jaga, sebagaimana Abu Bakar menjaga kepercayaan kepada Rasulullah
SAW.
Selain itu, skeptisisme
yang dialami Nabi saat itu membuktikan bahwa sejak zaman dulu, logika manusia
memang terbatas. Banyak orang Quraisy mencoba mematahkan cerita Nabi dengan
pertanyaan-pertanyaan teknis tentang Masjidil Aqsa, namun Nabi mampu menjawab
semuanya dengan detail. Ini adalah pelajaran bagi kita bahwa iman dan logika
tidak selamanya bertentangan. Justru iman seringkali berada di atas logika
untuk menjelaskan hal-hal yang belum mampu dicapai oleh akal manusia saat ini.
Kita tidak boleh sombong dengan pengetahuan yang kita miliki sekarang, karena
di atas langit masih ada langit.
Sebagai penutup, mari
kita evaluasi diri kita masing-masing. Apakah kita lebih sering menjadi orang
yang mudah terprovokasi oleh berita yang belum jelas kebenarannya, atau kita
sudah memiliki kualitas seperti Abu Bakar yang mampu melihat kebenaran melalui
kejernihan hati? Isra’ Mi’raj bukan hanya tentang perjalanan Nabi, tapi juga
tentang ujian loyalitas bagi para sahabatnya. Di zaman yang serba tidak pasti
ini, semoga kita bisa tetap teguh memegang nilai-nilai kebenaran meskipun badai
keraguan datang silih berganti di layar ponsel kita setiap harinya.
Editor : Ihza Latifatun Ni'mah