Mendorong Anak Menjadi Pencipta (Creator), Bukan Sekadar Konsumen
Salah satu tantangan terbesar bagi orang tua dan pendidik di era digital ini adalah kecenderungan anak-anak untuk menjadi konsumen pasif atas konten dan teknologi yang ada. Anak-anak menghabiskan berjam-jam menonton video, bermain gim buatan orang lain, atau menggulir konten media sosial tanpa menghasilkan karya orisinal mereka sendiri dalam kesehariannya. Fenomena ini jika dibiarkan akan menumpulkan daya kritis dan kreativitas anak, karena mereka hanya terbiasa menerima tanpa pernah merasakan proses sulit di balik pembuatan sebuah karya. Pendidikan dasar memiliki peran krusial untuk membalikkan tren ini dengan mendorong siswa bertransformasi dari seorang "pengguna" menjadi seorang "pencipta" (creator). Menjadi pencipta berarti anak belajar menggunakan perangkat teknologi atau alat fisik di sekitarnya sebagai sarana untuk mengekspresikan ide, memecahkan masalah, dan berbagi manfaat dengan orang lain. Pergeseran identitas dari konsumen menjadi kreator akan membangun mentalitas produsen yang sangat penting bagi kemandirian ekonomi dan intelektual mereka di masa depan.
Proses mendorong anak menjadi kreator dimulai dengan memberikan tantangan-tantangan kecil yang membutuhkan solusi fisik atau digital di lingkungan sekolah maupun rumah mereka. Misalnya, daripada sekadar memberikan gim edukasi siap pakai, guru bisa menantang siswa untuk merancang aturan main baru atau membuat desain papan permainan mereka sendiri di dalam kelas. Di ranah digital, anak-anak bisa diajarkan dasar-dasar pemrograman melalui blok visual seperti Scratch untuk menciptakan cerita animasi atau game sederhana yang mereka rancang sendiri alurnya. Kegiatan ini membuat anak menyadari bahwa teknologi bukan hanya untuk hiburan, melainkan sebuah alat bantu yang sangat berkuasa untuk mewujudkan imajinasi mereka menjadi karya nyata. Rasa bangga saat karya mereka digunakan atau dinikmati oleh teman-teman lainnya akan menjadi motivasi intrinsik yang jauh lebih kuat daripada hadiah materi apa pun. Menjadi kreator melatih anak untuk berpikir kritis tentang bagaimana sesuatu bekerja dan bagaimana cara membuatnya menjadi lebih baik atau lebih efisien.
Seorang ahli teknologi dan pendidikan, Mitchel Resnick dari MIT Media Lab, menyatakan bahwa "Kreativitas bukan hanya tentang memiliki ide-ide baru, tetapi tentang menggunakan ide-ide tersebut untuk menciptakan hal-hal baru di dunia nyata." Kutipan ini menjadi semangat bagi gerakan "Makerspace" di sekolah dasar, di mana siswa diberikan akses terhadap berbagai peralatan untuk bereksperimen dan berkarya secara bebas. Kita ingin anak-anak kita tidak hanya tahu cara menggunakan aplikasi, tetapi memahami logika di balik aplikasi tersebut dan memiliki keberanian untuk mencoba membuatnya sendiri. Mentalitas seorang pencipta mencakup ketangguhan untuk terus mencoba saat karyanya gagal, ketelitian dalam memperhatikan detail, dan kemampuan untuk menerima umpan balik dari pengguna. Pendidikan dasar harus mampu meyakinkan setiap anak bahwa mereka memiliki potensi untuk menjadi "arsitek masa depan" dan bukan sekadar pengikut arus tren yang ada. Inilah kunci untuk menghasilkan generasi inovator yang akan membawa bangsa ini menuju kemajuan yang lebih tinggi di kancah dunia internasional.
Mendorong anak menjadi kreator juga sangat erat kaitannya dengan pengembangan literasi digital yang lebih mendalam dan bertanggung jawab di tengah gempuran arus informasi saat ini. Seorang anak yang terbiasa membuat konten akan lebih kritis dalam menilai konten milik orang lain karena mereka memahami proses konstruksi di balik sebuah informasi atau karya digital. Mereka akan lebih berhati-hati dalam menyebarkan informasi dan lebih menghargai hak cipta serta kerja keras orang lain karena mereka juga merasakannya sendiri dalam proses berkarya. Guru bisa memfasilitasi hal ini dengan mengadakan pameran karya siswa secara rutin, baik dalam bentuk pameran fisik di aula sekolah maupun galeri digital di website sekolah. Dukungan dan apresiasi dari lingkungan sosial akan membuat anak merasa bahwa peran mereka sebagai kreator diakui dan memberikan dampak positif bagi komunitasnya. Perubahan pola pikir ini akan membawa dampak jangka panjang pada cara mereka menghadapi tantangan profesional di masa depan yang serba tidak pasti.
Pada akhirnya, kita ingin mencetak generasi muda yang memiliki jiwa entrepreneurship dan kreativitas yang tinggi untuk membangun solusi atas masalah-masalah sosial dan ekonomi bangsa. Menjadi pencipta adalah tentang mengambil kendali atas hidup sendiri dan berkontribusi secara aktif bagi kemajuan peradaban manusia melalui karya-karya yang bermakna dan solutif. Pendidikan dasar harus menjadi tempat di mana anak-anak menemukan "suara" mereka dan belajar untuk menerapkannya melalui berbagai bentuk karya, baik itu tulisan, teknologi, seni, maupun inovasi sosial. Mari kita ubah orientasi pembelajaran dari sekadar konsumsi pengetahuan menjadi produksi pengetahuan yang kreatif dan bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat di dunia. Dengan membekali mereka mentalitas sebagai pencipta, kita sedang memberikan warisan terbaik agar mereka tidak hanya bertahan, tetapi juga memimpin dalam perubahan zaman yang cepat ini. Mari kita jadikan setiap murid kita seorang kreator yang bangga akan setiap tetes keringat dan ide orisinal yang mereka curahkan dalam karya-karya hebat mereka.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita