Mencegah Kecurangan Akademik Melalui Teladan Guru
Isu meningkatnya kecurangan akademik di berbagai
sekolah mendorong para peneliti internasional untuk kembali menegaskan
pentingnya peran guru sebagai figur moral utama di ruang kelas. Berbagai studi
global menunjukkan bahwa perilaku dan keteladanan guru memiliki dampak langsung
pada tingkat kejujuran siswa. Salah satu pakar integritas akademik, Professor
Tricia Bertram Gallant dari University of California San Diego, menekankan
bahwa “students learn integrity not from rules, but from the adults who consistently
model it.” Ia menjelaskan bahwa guru yang transparan, adil, dan menunjukkan
komitmen kuat terhadap kejujuran secara tidak langsung menanamkan standar etis
yang diikuti oleh siswa. Menurutnya, keteladanan guru lebih efektif dibanding
hukuman, karena menciptakan budaya integritas yang tumbuh dari dalam diri
siswa.
Pakar lain, Professor Donald McCabe dari Rutgers
University yang dikenal sebagai pionir penelitian integritas akademik juga
menegaskan bahwa keteladanan guru memiliki pengaruh signifikan. Dalam
penelitiannya, McCabe menyebutkan bahwa “cheating
decreases when faculty demonstrate fairness, clarity, and ethical behavior in
academic practices.” Sekolah yang ingin menekan kecurangan, katanya, perlu
memastikan bahwa perilaku guru sejalan dengan nilai kejujuran yang mereka
ajarkan.
Dari perspektif psikologi moral, Professor David
Callahan, pendiri The Hastings Center, menyoroti bahwa kecurangan akademik
sering muncul bukan karena ketidakmampuan, tetapi karena lemahnya pembiasaan
moral. Ia menyatakan bahwa “ethical
habits are cultivated through daily exposure to consistent moral behavior,”
sehingga peran guru sebagai model perilaku menjadi kunci bagi pembentukan
kebiasaan kejujuran yang stabil pada siswa sejak dini.
Sejumlah laporan internasional juga menunjukkan bahwa
sekolah yang menempatkan integritas sebagai budaya inti dipimpin oleh guru yang
memberi contoh langsung mengalami penurunan drastis kasus plagiarisme dan
mencontek. Teladan guru dalam hal kejujuran, kedisiplinan, dan transparansi
menjadi fondasi terciptanya lingkungan akademik yang bersih. Dengan demikian,
keteladanan guru tidak hanya mencegah kecurangan, tetapi juga membentuk
generasi yang menghargai proses, bukan sekadar hasil.
Author: Wasis Suprapto
Editor: Arika Rahmania
Sumber: AI