MEMBENTUK SIKAP ANTI-STIGMA HIV/AIDS PADA ANAK SD MELALUI LITERASI
Sumber gambar: https://tse3.mm.bing.net/th/id/OIP.amPeq6lwzMx0LIFUKpNI9gHaHa?pid=Api&P=0&h=180
Sikap anti-stigma penting ditanamkan
sejak usia sekolah dasar. Banyak anak memiliki anggapan keliru tentang HIV
karena kurang informasi. Literasi yang kuat membantu menghilangkan rasa takut
terhadap penyandang HIV. Anak diajarkan bahwa HIV tidak menular melalui
aktivitas sehari-hari seperti bermain. Sikap menghargai ini dapat terbentuk
melalui edukasi yang benar. Anak belajar memahami perbedaan tanpa mengucilkan.
Pengetahuan menjadi dasar sikap positif.
Cerita moral dapat membantu
membangun sikap anti-stigma. Dalam cerita, anak dapat melihat tokoh yang tetap
berani berteman dengan penderita HIV. Nilai empati tersampaikan dengan halus
tanpa menakuti mereka. Cerita juga membantu anak menginternalisasi pesan secara
emosional. Dengan karakter yang mudah diingat, pesan menjadi lebih kuat. Guru
dapat membaca cerita ini secara berkala. Cerita menjadi media efektif membentuk
sikap.
Diskusi kelas juga membantu
mengatasi prasangka. Guru dapat menanyakan pendapat anak tentang perilaku yang
baik terhadap teman yang sakit. Anak bisa berbagi pandangan dan mengoreksi
pemahaman yang keliru. Diskusi menciptakan ruang aman untuk belajar tentang
perbedaan. Dari diskusi, anak belajar bahwa setiap individu berharga. Guru
mengarahkan agar anak memiliki sikap saling menghormati. Hal ini memperkuat
nilai kemanusiaan sejak dini.
Kegiatan bermain peran juga bisa
digunakan dalam pembelajaran anti-stigma. Anak diminta memainkan peran teman
yang mendukung dan empatik. Melalui aktivitas ini, mereka belajar bereaksi
dengan bijak pada situasi sosial. Bermain peran membuat konsep empati lebih
mudah dipahami. Anak dapat mencontoh sikap positif dari karakter yang
diperankan. Guru dapat memberikan evaluasi ringan setelah bermain. Ini
menumbuhkan sikap peduli pada sesama.
Penting juga melibatkan keluarga
dalam membangun sikap anti-stigma. Orang tua dapat memberikan contoh sikap
menghargai tanpa menghakimi. Diskusi sederhana di rumah membuat anak memahami
nilai toleransi. Jika keluarga menunjukkan sikap positif, anak akan meniru.
Kolaborasi sekolah dan keluarga membantu menguatkan literasi. Sikap anti-stigma
dapat terbentuk secara konsisten. Ini membangun generasi yang lebih inklusif
dan empatik.
Author:
Adinda Budi Julianti
Editor:
Nadia Anike Putri