Membentuk Karakter Antikorupsi Lewat Pembiasaan di Sekolah
Upaya membangun karakter
antikorupsi di Indonesia kini dimulai dari lingkungan sekolah. Pembiasaan
perilaku jujur, disiplin, dan bertanggung jawab sejak dini diyakini menjadi
fondasi penting untuk mencegah praktik korupsi di masa depan.
Menurut Prof. Susan
Rose-Ackerman, pakar korupsi dan hukum dari Yale University, pendidikan
antikorupsi yang efektif bukan sekadar teori, melainkan praktik sehari-hari.
“Siswa perlu mengalami langsung nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab.
Sekolah harus menjadi laboratorium moral di mana integritas dipraktikkan, bukan
hanya diajarkan,” ujarnya.
Di sekolah, pembiasaan
sederhana seperti menepati jadwal, menghargai giliran teman, dan keterbukaan
dalam penilaian bisa menjadi awal menanamkan budaya antikorupsi. Dr. Alina
Mungiu-Pippidi, profesor ilmu politik dari University of Bucharest, menambahkan
bahwa perilaku kecil yang konsisten dapat membentuk karakter etis. “Kebiasaan
kecil di kelas akan memengaruhi keputusan besar siswa ketika mereka dewasa,”
katanya.
Program mentoring dan
kegiatan ekstrakurikuler juga menjadi sarana penting. Guru bertindak sebagai
teladan dan pembimbing, sedangkan siswa belajar melalui pengalaman nyata. Hal
ini sejalan dengan penelitian Dr. Deborah Osher dari University of California,
yang menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman lebih efektif membentuk
sikap etis dibanding sekadar ceramah moral.
Lebih jauh, budaya
antikorupsi di sekolah diharapkan menular ke keluarga dan masyarakat,
menciptakan efek domino positif dalam membangun integritas nasional. Dengan
pembiasaan yang konsisten, pendidikan antikorupsi bukan hanya menjadi materi
pelajaran, tetapi gaya hidup yang melekat pada generasi muda.
Author: Wasis Suprapto
Editor: Arika Rahmania
Sumber: AI