Membangun Sekolah Tanpa Korupsi Berawal dari Kelas
Upaya mewujudkan sekolah tanpa korupsi tidak dapat
dimulai dari kebijakan tingkat atas saja; perubahan yang nyata justru bermula
dari ruang kelas. Di sinilah interaksi paling intens antara guru dan siswa
terjadi, dan di sinilah nilai-nilai dasar seperti kejujuran, tanggung jawab,
dan transparansi mulai dibentuk. Kelas adalah ekosistem kecil yang mencerminkan
budaya sekolah. Jika budaya kelas sudah terbangun dengan integritas yang kuat,
maka sekolah secara keseluruhan akan berkembang menjadi lingkungan yang bersih
dari praktik curang dan manipulatif.
Peran guru sebagai penjaga integritas kelas sangat
penting. Guru bukan hanya penyampai materi pelajaran, tetapi juga pengarah
moral yang mengajarkan siswa cara bertindak benar melalui contoh. Hal ini
selaras dengan pandangan Prof. Albert Bandura (Stanford University) yang
menyatakan: “Most human behavior is
learned observationally through modeling.” Artinya, ketika guru menunjukkan
konsistensi antara ucapan dan tindakan misalnya saat menilai dengan objektif,
jujur terhadap kesalahan, atau mematuhi aturan kelas siswa akan merekam dan
menirunya. Inilah pondasi awal sekolah tanpa korupsi.
Selain itu, strategi pembelajaran juga harus mendukung
lahirnya budaya integritas. Guru dapat memasukkan nilai antikorupsi ke dalam
berbagai kegiatan belajar seperti diskusi cerita moral, simulasi dilema etika,
proyek kolaboratif yang menuntut tanggung jawab, atau permainan yang
mengajarkan konsekuensi dari kecurangan. Pendekatan ini diperkuat oleh
pandangan Thomas Lickona, pakar pendidikan karakter dari Amerika Serikat, yang
menyatakan: “Good character education
helps students know the good, desire the good, and do the good.” Maka,
pembelajaran bukan hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga melatih kebiasaan
baik.
Budaya keterbukaan juga harus dibangun sejak dalam
kelas. Transparansi dalam penilaian, aturan yang disepakati bersama, serta
peluang berbicara yang adil bagi setiap siswa menciptakan iklim kelas yang
bebas dari praktik manipulatif. Siswa belajar sejak dini bahwa kejujuran
dihargai dan kecurangan merugikan diri sendiri dan orang lain. Lingkungan kelas
yang inklusif dan adil akan mengurangi peluang timbulnya perilaku manipulatif,
mencontek, atau saling menutup-nutupi kesalahan.
Pada akhirnya, sekolah antikorupsi bukanlah slogan,
melainkan hasil kerja bersama yang dimulai dari ruang kelas. Ketika guru
mengedepankan keteladanan dan menanamkan nilai integritas dalam pembelajaran,
siswa tumbuh dengan karakter yang kuat dan tidak mudah tergoda oleh perilaku
menyimpang. Dari kelas yang dikelola dengan kejujuran, lahirlah generasi yang
siap menjaga Indonesia dari korupsi di masa depan. Membangun sekolah tanpa
korupsi selalu dimulai dari langkah kecil dan langkah itu dimulai dari kelas.
Author: Wasis Suprapto
Editor: Arika Rahmania
Sumber: AI