Membangun Komunikasi Dialogis dengan Anak Melalui Diskusi Seputar Mukjizat
Peristiwa Isra Mi’raj adalah salah satu pintu masuk terbaik bagi orang tua dan guru untuk membangun komunikasi dialogis yang mendalam dengan anak-anak mengenai konsep mukjizat. Anak-anak usia sekolah dasar secara alami memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar dan sering kali melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis yang menantang logika orang dewasa. Menghadapi pertanyaan seperti "Bagaimana Buraq bisa terbang secepat kilat?" atau "Kenapa Allah memanggil Nabi ke langit?", orang dewasa tidak boleh memberikan jawaban yang membungkam nalar anak. Sebaliknya, momen ini harus dimanfaatkan sebagai sarana diskusi dua arah yang merangsang kemampuan berpikir logis sekaligus memperkuat keyakinan spiritual mereka terhadap kekuasaan Allah. Komunikasi dialogis menuntut orang tua dan guru untuk menjadi pendengar yang baik serta mampu memberikan penjelasan yang proporsional sesuai dengan tingkat perkembangan mental anak. Dengan berdiskusi, anak merasa dihargai pendapatnya dan merasa aman untuk mengeksplorasi konsep-konsep agama yang bersifat metafisika.
Dalam membangun dialog tentang mukjizat, penting untuk menggunakan analogi yang relevan dengan dunia teknologi yang sudah akrab dengan keseharian anak-anak zaman sekarang. Misalnya, orang tua bisa membandingkan kecepatan Buraq dengan kecepatan internet atau cahaya untuk memberikan gambaran tentang betapa hebatnya ciptaan Allah yang melampaui teknologi manusia. Diskusi ini juga harus ditekankan pada tujuan di balik mukjizat tersebut, yaitu untuk menunjukkan kebenaran risalah Nabi dan memberikan penghiburan bagi hamba-Nya yang sedang berjuang. Dr. Seto Mulyadi, pemerhati anak yang akrab disapa Kak Seto, sering menekankan bahwa "Anak-anak membutuhkan penjelasan yang logis namun penuh dengan imajinasi positif agar mereka tidak merasa asing dengan ajaran agamanya sendiri." Dengan pendekatan yang partisipatif, anak akan merasa bahwa agama adalah sesuatu yang menarik untuk dipelajari, bukan sekadar doktrin yang harus diterima secara mentah tanpa dipahami maknanya.
Selain aspek teknis perjalanan, ajaklah anak mendiskusikan nilai-nilai kemanusiaan yang muncul saat Rasulullah bertemu dengan para Nabi terdahulu di berbagai tingkatan langit. Tanyakan kepada anak, "Kira-kira apa ya yang dibicarakan Nabi Muhammad saat bertemu Nabi Musa?" Pertanyaan pemantik seperti ini akan merangsang anak untuk berimajinasi tentang indahnya persaudaraan dan kelanjutan risalah para nabi dari masa ke masa. Melalui dialog ini, guru dapat menanamkan pemahaman bahwa keberagaman dan perbedaan adalah sunnatullah yang harus disikapi dengan rasa hormat dan kerja sama yang baik. Diskusi mengenai perintah shalat yang diterima di Sidratul Muntaha juga bisa dikaitkan dengan kedisiplinan dan tanggung jawab anak dalam mengelola waktu sehari-hari. Komunikasi yang terbuka akan membuat nilai-nilai agama mengalir secara alami ke dalam kesadaran anak, sehingga mereka melakukannya bukan karena perintah, melainkan karena pemahaman yang matang.
Tantangan utama dalam komunikasi dialogis adalah ketika orang dewasa sendiri merasa kurang percaya diri atau tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk menjawab pertanyaan anak yang mendalam. Hal ini sebenarnya merupakan peluang bagi orang tua dan guru untuk belajar bersama anak, menunjukkan bahwa menuntut ilmu adalah proses sepanjang hayat yang tidak pernah berhenti. Jangan ragu untuk mengatakan, "Mari kita cari tahu bersama jawabannya di buku ini," sebagai bentuk kejujuran intelektual yang akan sangat dihormati oleh anak-anak. Sikap rendah hati orang dewasa dalam mengakui keterbatasan pengetahuan akan mengajarkan anak tentang adab dalam menuntut ilmu dan pentingnya merujuk pada sumber yang benar. Dialog yang sehat akan menciptakan ikatan emosional (bonding) yang sangat kuat antara orang tua dan anak, sehingga anak akan selalu menjadikan rumah sebagai tempat pertama untuk berkonsultasi tentang apa pun. Pendidikan yang berbasis dialog akan melahirkan generasi yang kritis, cerdas, namun tetap memiliki kerendahan hati dan iman yang kokoh.
Mari kita jadikan setiap narasi mukjizat dalam Islam sebagai sarana untuk mempererat komunikasi dengan generasi penerus kita melalui diskusi-diskusi yang bermakna. Isra Mi’raj telah memberikan kita bahan diskusi yang luar biasa kaya untuk membentuk pola pikir anak yang futuristik namun tetap berpijak pada nilai-nilai ketauhidan yang kuat. Jangan biarkan pertanyaan-pertanyaan anak berlalu tanpa jawaban yang memuaskan, karena di sanalah sebenarnya letak peluang emas untuk menanamkan benih iman yang benar. Semoga kita semua diberikan kesabaran dan kecerdasan dalam membimbing anak-anak kita menjadi pribadi yang mampu menyatukan kecanggihan logika dengan kedalaman rasa spiritual. Dengan komunikasi yang tepat, mukjizat Isra Mi’raj akan terus hidup di dalam hati mereka sebagai inspirasi untuk selalu melakukan perjalanan "mikraj" menuju kebaikan-kebaikan baru di masa depan. Mari terus berdialog dengan penuh cinta, karena dari sanalah masa depan umat yang cemerlang akan mulai kita bangun dari rumah dan sekolah.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita