Membangun Kesadaran Ketahanan Pangan Melalui Pendidikan Transformatif Di Sekolah Dasar
Ketahanan pangan sebagai salah satu isu global
yang paling mendesak di abad ke-21, dengan dampak yang meluas pada kesehatan
masyarakat, stabilitas ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan. Food and
Agriculture Organization (FAO) mengemukakan bahwa ketahanan pangan dapat
dipahami sebagai kondisi ketika semua orang, setiap saat, memiliki akses fisik,
sosial, dan ekonomi terhadap jumlah makanan yang cukup, aman, dan bergizi untuk
memenuhi kebutuhan dan preferensi makanan setiap orang untuk menjalani hidup
yang aktif dan sehat. Dalam konteks Indonesia, tantangan ketahanan pangan
semakin kompleks dengan pertumbuhan populasi yang terus meningkat, perubahan
iklim yang tidak menentu, degradasi lahan pertanian, dan adanya urbanisasi yang
massif.
Kesadaran ketahanan pangan tidak dapat dipisahkan
dari pemahaman mendalam tentang sistem pangan yang berkelanjutan. Sistem pangan
global saat ini menghadapi berbagai tekanan, mulai dari ketergantungan pada
input kimia yang tinggi, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga distribusi
pangan yang tidak merata (Herawati et al., 2025). Di Indonesia, meskipun telah
mencapai swasembada beras pada beberapa periode, masih mwnghadapi tantangan
signifikan dalam diversifikasi pangan, ketergantungan impor untuk komoditas
strategis tertentu, dan malnutrisi yang masih tinggi di beberapa wilayah.
Pendidikan ketahanan pangan di tingkat sekolah
dasar menjadi fundamental karena pada usia ini, anak-anak berada dalam fase
pembentukan karakter dan kebiasaan yang akan mempengaruhi perilaku mereka di
masa depan (Situmorang et al., 2025). Sekolah dasar memiliki peran strategis
sebagai institusi yang dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat dan
memberikan fondasi pengetahuan yang kuat tentang pentingnya ketahanan pangan.
Melalui pendidikan transformatif yang holistik, siswa tidak hanya memperoleh
pengetahuan teoritis, tetapi juga keterampilan praktis dan kesadaran kritis
tentang hubungan antara makanan, kesehatan, lingkungan, dan masyarakat.
Kesadaran pangan secara umum mencakup pemahaman
tentang siklus produksi pangan, nilai gizi makanan, keamanan pangan,
keberlanjutan lingkungan dalam produksi pangan, dan dampak sosial-ekonomi dari
pilihan konsumsi. Dalam konteks global, kesadaran ini telah menjadi bagian
integral dari pendidikan berkelanjutan, dengan berbagai negara mengintegrasikan
pendidikan pangan ke dalam kurikulum nasional mereka. Di negara-negara maju
seperti Jepang, Finlandia, dan Kanada, pendidikan ketahanan pangan telah
menjadi komponen wajib dalam sistem pendidikan, dengan pendekatan yang
menekankan pada pembelajaran berbasis pengalaman dan keterlibatan komunitas
(Gerstenfeld et al., 2025).
Untuk sekolah dasar khususnya, kesadaran ketahanan
pangan perlu dikontekstualisasikan dengan tingkat perkembangan kognitif dan
psikososial anak usia 6-12 tahun. Pada usia anak 6-12 tahun, anak-anak
cenderung memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, kemampuan belajar yang cepat,
dan cenderung meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya. Pendekatan pendidikan
yang tepat dapat memanfaatkan karakteristik ini untuk membangun fondasi
kesadaran yang kuat tentang pentingnya pangan yang sehat, berkelanjutan, dan
dapat diakses oleh semua orang.
Berbagai kompleksitas dimensi atau komponwn
kesadaran ketahanan pangan yang perlu dikembangkan di tingkat sekolah dasar.
Pertama mengenai pengetahuan tentang gizi, komponen ini merupakan fondasi dasar
yang harus dikuasai siswa, karena pemahaman tentang zat gizi makro
(karbohidrat, protein, lemak) dan mikro (vitamin, mineral) akan mempengaruhi
pilihan konsumsi mereka sepanjang hidup. Indikator keberhasilan pada komponen
ini tidak hanya sebatas hafalan, tetapi kemampuan siswa untuk mengidentifikasi
makanan bergizi dalam kehidupan sehari-hari mereka. Kesadaran lingkungan
menjadi komponen krusial kedua, mengingat produksi pangan memiliki dampak
signifikan terhadap ekosistem global. Siswa perlu memahami bahwa pilihan
makanan mereka tidak hanya mempengaruhi kesehatan personal, tetapi juga
kesehatan lingkungan. Implementasi melalui kebun sekolah dan kunjungan lapangan
memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengobservasi secara langsung proses
produksi pangan dan dampaknya terhadap lingkungan. Program ini juga mengajarkan
nilai-nilai tanggung jawab lingkungan dan keberlanjutan sejak dini.
Kompenen yang ketiga adalah mengenai keterampilan
produksi pangan. Komponen ini berkaitan dengan kemampuan menanam dan merawat
tanaman. Hal yang perlu dilakukan adalah pelibatan siswa melalui program kebun
sekolah dengan tujuan tidak hanya mengembangkan kemampuan teknis, tetapi juga
membangun karakter kerja keras, kesabaran, dan apresiasi terhadap kemampuan
siswa dalam memperoduksi makanannya (Fatimah & Nindya, 2019). Siswa yang
terlibat dalam aktivitas menanam dan merawat tanaman akan memiliki pemahaman
yang lebih mendalam tentang kompleksitas produksi pangan dan menghargai setiap
butir makanan yang mereka konsumsi. Greenhouse mini juga dapat menjadi
solusi bagi sekolah dengan lahan terbatas, sambil tetap memberikan pengalaman
berharga dalam budidaya tanaman.
Kompenen yang keempat mengenai keamanan pangan,
komponen ini sebagai aspek yang sering terabaikan dalam pendidikan anak-anak,
padahal sangat penting untuk mencegah foodborne diseases. Pembelajaran
tentang hygiene dan sanitasi dalam penanganan makanan harus diajarkan
melalui praktik langsung dan role play yang menyenangkan bagi aiswa.
Siswa perlu memahami pentingnya mencuci tangan, membersihkan peralatan makan,
dan memilih makanan yang aman untuk dikonsumsi (Agustina et al., 2024). Dimensi
atau kompenen yang kelima adalah nilai sosial-ekonomi, komponen ini seabagi
sarana dalam membuka wawasan siswa tentang realitas bahwa tidak semua orang
memiliki akses yang sama terhadap pangan berkualitas. Melalui diskusi kelompok
dan studi kasus yang disesuaikan dengan usia mereka, siswa dapat mengembangkan
empati dan kesadaran sosial tentang isu kemiskinan dan kelaparan. Pembelajaran
ini penting untuk membangun generasi yang tidak hanya peduli pada kesehatan
pribadi, tetapi juga kesejahteraan masyarakat secara luas.
Komponen yang terakhir adalah mengenai kearifan
lokal, komponen ini menjadi semakin penting dalam era globalisasi, di mana
makanan modern dan fast food semakin mendominasi pola konsumsi
anak-anak. Pengenalan terhadap pangan tradisional dan kearifan lokal dalam
sistem pangan membantu siswa membangun identitas budaya yang kuat sambil tetap
terbuka terhadap inovasi dan perubahan. Kolaborasi dengan komunitas lokal dalam
implementasi komponen ini akan memperkaya pengalaman belajar siswa dan
memperkuat ikatan antara sekolah dengan masyarakat.
Membangun kesadaran ketahanan pangan sejak dini di sekolah dasar bukan hanya tentang menyediakan materi gizi, tetapi juga tentang menanamkan nilai, membentuk karakter, dan menciptakan pengalaman belajar yang transformatif. Jika dilakukan secara konsisten, strategi ini akan melahirkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh dalam menghadapi tantangan pangan, peduli pada lingkungan, dan memiliki rasa solidaritas sosial. Dengan demikian, pendidikan ketahanan pangan di sekolah dasar dapat menjadi fondasi penting dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan dan adil.
Sumber Referensi
Agustina, S. E. P., Devira, Y., Tiwi, I. A. A.,
Sunarti, R. N., Syafri, R., & Velina, Y. (n.d.). Food Safety Alert:
Traces of Formalin and Rhodamine B Found in Children’s Snacks Near Schools in
Lubuklinggau, South Sumatra.
https://id.pinterest.com/pin/6544361954264643/
(sumber gambar).
Gerstenfeld, L., Blacker, L., McCulloch, C. E.,
Ritchie, L. D., Ordonez, V. M., Schmidt, L., & Patel, A. I. (2025). The
impact of a water promotion and access intervention on elementary school
students in the presence of food insecurity. Public Health Nutrition, 28(1),
e2. https://doi.org/10.1017/S1368980024002283.
Herawati., D. A., Risdhianto., A & Saptono.,
E. (2025). Swasembada Pangan sebagai Pilar Strategis Ketahanan Nasional di
Indonesia dalam Perspektif Manajemen Pertahanan. KREATIF: Jurnal Pengabdian
Masyarakat Nusantara, 5(3), 140–152. https://doi.org/10.55606/kreatif.v5i3.7959.
Situmorang, B., Herlina., & Gunawan, R. (2025). Inovasi Pangan Lokal sebagai Strategi Efisien Pembiayaan Kesehatan Anak Sekolah Dasar di Aek Parombunan Sibolga: Penelitian. Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan, 4(1), 4147–4152.
PAuthor: Muhammad Rusli
EEditor: Nadia Anike Putri