Membangun Identitas Nasional di Tengah Budaya Pop Global
Sumber: Gemini AI
Gelombang budaya pop global (pop culture), mulai dari K-Pop, anime Jepang, hingga film superhero Hollywood, telah menjadi konsumsi sehari-hari siswa sekolah dasar di Indonesia. Fenomena ini sering kali menimbulkan kekhawatiran bahwa anak-anak kita akan mengalami krisis identitas, lebih bangga menjadi bagian dari fandom global daripada menjadi warga negara Indonesia. Namun, melarang atau memusuhi budaya pop adalah langkah yang sia-sia dan justru akan menciptakan jarak antara guru dan siswa. Pendekatan yang lebih bijak adalah strategi akulturasi dan adaptasi, di mana identitas nasional dibangun berdampingan dengan selera global mereka, bukan dipertentangkan. Kita perlu membangun identitas "hibrida" yang percaya diri: selera boleh global, tapi hati tetap lokal.
Guru dapat menggunakan ketertarikan siswa pada budaya pop sebagai pintu masuk (entry point) untuk mendiskusikan nilai-nilai budaya sendiri. Misalnya, jika siswa mengagumi kerja keras dan kedisiplinan para idola K-Pop, guru bisa menarik benang merah bahwa nilai kerja keras itu juga merupakan etos budaya Indonesia yang dimiliki para pahlawan atau atlet nasional. Diskusi ini validasi hobi mereka sekaligus menyuntikkan nilai lokal tanpa terasa menggurui. Siswa diajak melihat bahwa kualitas-kualitas hebat yang mereka kagumi dari luar negeri sebenarnya juga ada di dalam negeri, hanya kemasannya saja yang berbeda. Ini adalah upaya membangun jembatan relevansi.
Selain itu, fenomena budaya pop global bisa dijadikan pembanding untuk memantik rasa penasaran siswa terhadap budaya sendiri yang mungkin belum tergarap maksimal. Guru bisa menantang kreativitas siswa: "Bagaimana caranya membuat cerita rakyat Timun Mas sekeren cerita superhero Marvel?" atau "Bisakah kita membuat musik gamelan yang asyik buat joget seperti lagu pop?". Tantangan ini mengubah posisi siswa dari konsumen pasif budaya asing menjadi kreator aktif yang terinspirasi untuk mengolah budaya lokal dengan cita rasa modern. Inovasi budaya sering kali lahir dari persilangan ide, dan siswa SD memiliki imajinasi tanpa batas untuk melakukan itu.
Penting juga untuk menanamkan pemahaman bahwa menyukai budaya asing tidak otomatis mengurangi kadar nasionalisme seseorang, asalkan tidak melupakan akar budayanya sendiri. Guru harus menekankan konsep "tuan rumah di negeri sendiri", di mana kita terbuka menyambut tamu (budaya asing) tetapi tidak membiarkan tamu mengatur rumah kita. Siswa diajarkan untuk mengambil hal-hal positif dari budaya luar, seperti kebersihan, ketertiban, atau teknologi, dan membuang hal-hal yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Kemampuan memilah (kurasi budaya) ini adalah keterampilan berpikir kritis tingkat tinggi.
Membangun identitas nasional di era ini adalah tentang membangun kepercayaan diri bahwa menjadi Indonesia itu keren dan membanggakan. Kita perlu memperbanyak konten budaya populer lokal yang berkualitas tinggi agar anak-anak punya alternatif idola dari negeri sendiri. Namun sebelum itu terwujud sepenuhnya, peran guru adalah mendampingi siswa menavigasi hutan budaya pop global agar mereka tidak tersesat. Biarkan mereka menyanyikan lagu asing, asalkan lagu Indonesia Raya tetap bergetar paling keras di dada mereka. Identitas nasional harus menjadi rumah yang nyaman untuk pulang, bukan penjara yang mengekang.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita