Membaca Isra’ Mi’raj sebagai Proses Pendewasaan Spiritual Manusia Modern
Manusia modern sering
kali tumbuh pesat secara intelektual, namun tertinggal dalam kedewasaan
spiritual. Pengetahuan berkembang, teknologi melesat, tetapi kebijaksanaan
tidak selalu mengikutinya. Dalam konteks ini, Isra’ Mi’raj dapat dipahami
sebagai simbol proses pendewasaan spiritual yang menuntut kesiapan batin, bukan
sekadar kecanggihan rasional.
Perjalanan Isra’ Mi’raj
menunjukkan bahwa kedekatan dengan kebenaran tidak dicapai melalui loncatan
instan, melainkan melalui proses panjang yang sarat ujian. Nabi Muhammad SAW
tidak mengalami Isra’ Mi’raj di masa nyaman, tetapi justru setelah fase kehidupan
yang penuh tekanan dan kehilangan. Hal ini menegaskan bahwa kedewasaan
spiritual sering lahir dari pergulatan, bukan dari kenyamanan.
Dalam kehidupan
sehari-hari, banyak orang berusaha menghindari ketidaknyamanan, padahal di
situlah proses pendewasaan terjadi. Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa menghadapi
luka, kegagalan, dan kesunyian adalah bagian dari perjalanan menuju pemahaman
diri yang lebih utuh. Spiritualitas bukan pelarian dari realitas, melainkan
cara paling jujur untuk menghadapinya.
Dengan menjadikan Isra’
Mi’raj sebagai refleksi pendewasaan spiritual, manusia modern diajak untuk
tidak hanya mengejar kemajuan lahiriah, tetapi juga membangun kedalaman batin.
Sebab tanpa kedewasaan spiritual, kemajuan apa pun berisiko kehilangan arah dan
tujuan kemanusiaannya.
Editor : Ihza Latifatun
Ni’mah