MELATIH SIKAP EMPATI ANAK SD TERHADAP ODHA
Sumber foto: https://share.google/wcB0IIqaSAktKhUCn
Empati merupakan kemampuan penting
yang perlu diajarkan sejak anak berada di bangku SD. Anak yang terbiasa
memahami perasaan orang lain akan tumbuh menjadi pribadi yang peduli. Sikap
empati ini sangat diperlukan ketika mereka berinteraksi dengan Orang dengan
HIV/AIDS atau ODHA. Guru perlu menekankan bahwa ODHA tetap manusia yang
memiliki hak untuk dihormati. Mereka juga harus mengetahui bahwa HIV tidak
menular melalui interaksi sosial biasa. Penjelasan sederhana membantu anak
memahami bahwa ODHA tidak boleh didiskriminasi. Dengan demikian, empati dapat
tumbuh bersamaan dengan pengetahuan kesehatan.
Cerita inspiratif dapat menjadi
jembatan untuk menanamkan empati. Guru dapat membacakan kisah tentang anak yang
tetap bersahabat dengan temannya yang memiliki masalah kesehatan. Dari cerita
tersebut, siswa akan melihat bahwa persahabatan tidak boleh diputuskan oleh
penyakit. Cerita juga membantu siswa membayangkan perasaan seseorang yang
dikucilkan. Dengan membayangkan situasi tersebut, anak akan belajar menempatkan
diri. Metode ini lebih mudah dipahami dibandingkan penjelasan abstrak. Anak
menjadi lebih sensitif terhadap perasaan orang lain.
Kegiatan bermain peran juga sangat
efektif untuk melatih empati. Guru dapat menugaskan beberapa anak untuk
memerankan situasi diskriminasi dan cara menghadapinya. Anak lain diminta
mengamati dan memberikan pendapat setelah permainan selesai. Dari situ, mereka
belajar bahwa sikap baik dapat membuat orang lain merasa dihargai. Bermain
peran memungkinkan anak memahami situasi secara lebih nyata. Suasana belajar
pun menjadi lebih aktif dan menyenangkan. Hal ini membantu nilai empati
tersampaikan dengan kuat.
Selain pendidik, orang tua juga
berperan penting dalam melatih empati anak. Mereka dapat mencontohkan sikap
baik kepada tetangga, keluarga, atau siapa pun yang membutuhkan bantuan.
Anak-anak biasanya belajar dari tindakan yang mereka lihat setiap hari. Diskusi
ringan tentang pentingnya menghargai perasaan orang lain juga perlu dilakukan.
Sikap bijak orang tua akan tercermin dalam perilaku anak di lingkungan sekolah.
Dengan dukungan keluarga, perkembangan empati anak akan lebih stabil. Hal ini
memberikan pengaruh jangka panjang bagi kepribadian mereka.
Anak yang memiliki empati tinggi
akan cenderung menghindari tindakan perundungan. Mereka lebih memahami bahwa
setiap orang memiliki kondisi dan cerita hidup yang berbeda. Sikap empati juga
membuat anak menjadi lebih dewasa dalam menanggapi informasi. Mereka dapat
membantu teman lain yang merasa tidak percaya diri. Lingkungan sekolah pun akan
terasa lebih harmonis dan positif. Pendidikan empati terkait ODHA menjadi
bagian penting dari literasi kesehatan. Dengan demikian, anak dapat tumbuh
sebagai generasi yang lebih peduli dan toleran.