Masa Depan Bangsa diTangan Anak Sehat: Refleksi Hari Gizi Nasional
Peringatan Hari Gizi Nasional setiap tahunnya harus menjadi momen refleksi kolektif bagi seluruh elemen bangsa, terutama para praktisi pendidikan dasar, mengenai sejauh mana kita telah menjaga aset paling berharga Indonesia. Anak yang sehat bukan hanya target statistik kesehatan, melainkan pondasi utama di mana kedaulatan, martabat, dan kemajuan peradaban bangsa kita dibangun. Di ruang-ruang kelas sekolah dasar hari ini, sedang bertumbuh para calon pemimpin, inovator, dan pelindung negeri yang kualitasnya sangat bergantung pada apa yang mereka makan hari ini. Kesadaran bahwa masa depan bangsa berada di tangan anak yang sehat harus memacu semangat baru untuk menempatkan isu gizi sebagai prioritas tertinggi dalam agenda pembangunan nasional. Refleksi ini menuntut tindakan nyata yang melampaui perayaan seremonial, yakni komitmen untuk memastikan tidak ada lagi anak Indonesia yang tertinggal pertumbuhannya.
Sejarah bangsa-bangsa besar di dunia menunjukkan bahwa lompatan kemajuan mereka selalu diawali dengan perbaikan drastis pada kualitas gizi anak-anak usia sekolahnya. Indonesia tidak akan mampu bersaing di panggung global jika sebagian besar generasi penerusnya masih dihantui oleh bayang-bayang stunting yang membatasi kapasitas intelektual mereka. Hari Gizi Nasional harus menjadi momentum bagi para guru sekolah dasar untuk memperbarui tekad mereka sebagai pejuang literasi kesehatan di garis depan pendidikan. Setiap tindakan kecil di sekolah, seperti memastikan siswa sarapan atau mengedukasi tentang bahaya jajanan tidak sehat, adalah langkah besar bagi keselamatan bangsa. Kita harus menumbuhkan rasa bangga di hati setiap anak untuk hidup sehat sebagai bentuk pengabdian kepada tanah air tercinta.
Mantan Presiden RI, B.J. Habibie, pernah berpesan bahwa "Kunci masa depan Indonesia adalah pada kualitas sumber daya manusia yang unggul, yang dimulai dari otak yang sehat dan tubuh yang kuat sejak usia dini." Beliau menekankan bahwa teknologi dan sumber daya alam tidak akan ada artinya tanpa dikelola oleh manusia-manusia yang tangguh secara fisik dan cerdas secara mental. Refleksi ini mengajak kita untuk kembali pada esensi pendidikan yang memanusiakan manusia seutuhnya, termasuk pemeliharaan raga sebagai bait bagi jiwa yang cerdas. Kita memiliki tanggung jawab sejarah untuk memastikan bahwa anak-anak Indonesia 2045 adalah generasi yang bebas dari belenggu malnutrisi dan stunting. Hari Gizi Nasional adalah alarm pengingat bahwa waktu kita terbatas untuk mempersiapkan mereka menjadi pemenang di masa depan.
Upaya besar ini memerlukan gerakan semesta yang melibatkan orang tua, guru, pemerintah, dan seluruh lapisan masyarakat dalam satu barisan yang solid. Kita perlu membangun narasi nasional yang positif bahwa gizi seimbang adalah bagian dari gaya hidup modern dan bermartabat bagi bangsa Indonesia. Sekolah harus terus menjadi oase informasi kesehatan yang mencerahkan dan melindungi siswa dari arus informasi gizi yang salah di era digital ini. Dukungan moril dan materiil bagi sekolah-sekolah di pelosok yang sedang berjuang melawan malnutrisi harus terus ditingkatkan secara konsisten. Mari kita jadikan peringatan hari gizi sebagai tonggak keberanian untuk mengubah pola pikir dan pola tindak kita demi kesehatan anak bangsa yang lebih baik.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita