MAKNA TERSEMBUNYI DARI KATA 'GURU’
Sumber gambar: https://share.google/pVoekaPOo2jc2Ef9V
Kata “guru” dalam banyak budaya memiliki makna yang dalam. Di India, kata “Guru” berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “penerang dari kegelapan menuju cahaya ilmu.” Ini menunjukkan bahwa guru bukan sekadar pengajar, tetapi pembimbing jiwa. Dalam budaya Jepang, guru disebut “Sensei”, yang berarti seseorang yang telah lahir lebih dulu dalam ilmu dan pengalaman. Semua istilah ini memiliki akar penghormatan.
Jika kita melihat budaya Nusantara, guru sering dianggap sebagai sosok moral. Mereka bukan hanya mengajarkan pelajaran akademik, tetapi juga nilai-nilai kehidupan. Guru memiliki posisi yang dihormati dalam masyarakat karena mereka membentuk manusia dari dasar. Tanpa guru, seseorang hanya memiliki tubuh fisik tanpa arah moral dan intelektual.
Makna kata guru juga mencerminkan hubungan antara guru dan murid. Hubungan ini bersifat spiritual, intelektual, dan emosional. Murid belajar bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui keteladanan guru. Karena itu, pendidikan yang baik selalu dilandasi oleh hubungan saling menghormati.
Hari Guru menjadi momen untuk mengingat makna itu kembali. Banyak orang mungkin kini menggunakan kata “guru” dengan ringan, tetapi sejarah bahasa menunjukkan bahwa kata ini penuh martabat. Ketika kita menyebut seseorang “guru,” kita sebenarnya memberikan penghormatan besar atas perannya dalam membentuk kehidupan.
Karena itulah, Hari Guru bukan sekadar selebrasi—ini adalah bentuk pelestarian budaya penghormatan terhadap ilmu dan pembawa ilmu. Jika makna ini terus dipertahankan, maka martabat pendidikan akan tetap terjaga dalam masyarakat.
Author: Adinda Budi Julianti
Editor: Arika Rahmania
Sumber: AI