Kurikulum Berbasis Iman: Mengintegrasikan Nilai Isra Mi’raj dalam Pembelajaran
Membangun kurikulum berbasis iman di jenjang sekolah dasar bukan berarti hanya menambah jam pelajaran agama, melainkan mengintegrasikan nilai-nilai spiritual ke dalam seluruh aspek pembelajaran siswa. Peristiwa Isra Mi’raj menyediakan materi yang sangat kaya untuk menjadi ruh dalam setiap mata pelajaran, mulai dari sains, matematika, hingga bahasa dan seni. Mengintegrasikan nilai Isra Mi’raj berarti mengajak siswa untuk melihat keterhubungan antara ilmu yang mereka pelajari dengan keimanan kepada Allah yang Maha Mengatur segala sesuatu. Pendidik diharapkan mampu menyusun rancangan pembelajaran yang tidak hanya mengejar target materi, tetapi juga menyentuh sisi spiritualitas anak secara mendalam dan konsisten. Kurikulum yang berbasis iman akan menciptakan ekosistem belajar yang lebih bermakna di mana setiap aktivitas di sekolah dianggap sebagai bentuk ibadah dan penghambaan kepada Tuhan. Dengan cara ini, siswa tidak akan merasakan adanya dikotomi atau pemisahan antara ilmu dunia dan ilmu akhirat dalam proses pendidikan mereka setiap harinya.
Integrasi nilai Isra Mi’raj dalam pembelajaran sains, misalnya, dapat dilakukan dengan membahas konsep atmosfer, gravitasi, dan perjalanan antar-ruang melalui perspektif mukjizat nabi. Dalam pelajaran matematika, guru dapat memperkenalkan konsep ketidakterbatasan dan ketelitian yang merupakan cerminan dari kesempurnaan ciptaan Allah dalam mengatur rasi bintang yang dilewati Rasulullah. Sementara itu, dalam pelajaran bahasa, kisah Isra Mi’raj dapat menjadi bahan narasi untuk melatih kemampuan bercerita dan menulis kreatif siswa dengan mengedepankan nilai-nilai kejujuran dan keberanian. Kurikulum berbasis iman ini melatih siswa untuk selalu berpikir kritis namun tetap memiliki kerendahhatian intelektual di hadapan luasnya ilmu yang dimiliki oleh Allah SWT. Pendidik harus berperan sebagai arsitek pembelajaran yang kreatif dalam merajut nilai-nilai langit ke dalam kurikulum bumi agar pendidikan menjadi lebih berbobot dan transformatif. Setiap kompetensi dasar yang diajarkan harus mampu meningkatkan rasa cinta siswa kepada Rasulullah dan rasa takut akan berbuat dosa di hadapan Sang Pencipta.
Prof. Dr. Mansur Ali, seorang pakar pengembangan kurikulum pendidikan Islam, menyatakan bahwa "Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa harus mencabut akar keimanan siswa dari sumber aslinya." Beliau menekankan bahwa Isra Mi’raj adalah bukti sejarah yang harus dijadikan pijakan moral bagi seluruh proses belajar mengajar di sekolah agar tidak kehilangan arah spiritualitasnya. Kurikulum berbasis iman memberikan landasan etika yang kuat bagi siswa untuk menggunakan ilmu pengetahuan mereka demi kemaslahatan umat manusia, bukan untuk merusaknya. Tanpa integrasi iman, pendidikan hanya akan menghasilkan teknokrat-teknokrat yang hampa nilai dan mudah goyah oleh godaan materi serta kekuasaan di masa depan. Oleh karena itu, kolaborasi antara guru agama dan guru mata pelajaran umum sangat diperlukan untuk menciptakan narasi pembelajaran yang utuh dan komprehensif bagi siswa. Hasil dari kurikulum ini adalah lahirnya generasi emas yang cakap secara teknologi namun tetap kokoh dalam memegang teguh prinsip-prinsip syariat Islam dalam kehidupannya.
Selain integrasi dalam mata pelajaran, kurikulum berbasis iman juga harus tercermin dalam budaya sekolah, seperti pembiasaan adab-adab harian yang diajarkan melalui hikmah Isra Mi’raj. Budaya disiplin waktu, kejujuran dalam ujian, dan sopan santun dalam berbicara harus menjadi bagian tak terpisahkan dari kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) di setiap sekolah dasar. Guru harus memberikan keteladanan yang nyata dalam mempraktikkan nilai-nilai tersebut agar siswa memiliki rujukan perilaku yang konkret dalam kehidupan sekolah sehari-hari. Evaluasi pembelajaran pun tidak boleh hanya terpaku pada angka-angka kognitif, tetapi juga harus mencakup penilaian terhadap perkembangan karakter dan ketaatan ibadah siswa secara berkala. Melalui kurikulum yang holistik ini, sekolah benar-benar berfungsi sebagai tempat penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) sekaligus tempat pengasahan akal bagi seluruh peserta didiknya. Setiap momen di sekolah menjadi kesempatan bagi siswa untuk mengalami "isra" kecil menuju pemahaman yang lebih baik tentang diri mereka dan tentang Tuhan mereka.
Mengintegrasikan nilai Isra Mi’raj dalam kurikulum adalah langkah strategis untuk menyelamatkan masa depan generasi bangsa dari krisis moral dan spiritual. Mari kita jadikan setiap materi pelajaran sebagai jendela untuk melihat kebesaran Allah dan setiap aktivitas sekolah sebagai tangga untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Pendidikan yang berbasis iman adalah investasi terbaik yang akan membuahkan hasil berupa masyarakat yang adil, makmur, dan penuh keberkahan di masa yang akan datang. Tugas kita sebagai pendidik adalah menjadi pelayan ilmu yang amanah dalam menyampaikan setiap hikmah dari perjalanan Rasulullah ke dalam hati sanubari anak-anak kita. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan dan petunjuk-Nya dalam upaya kita menyempurnakan kurikulum pendidikan dasar yang religius dan bermartabat ini. Mari kita melangkah bersama dengan penuh keyakinan bahwa pendidikan yang diberkahi adalah pendidikan yang selalu meninggikan asma Allah di atas segala-galanya dalam proses belajar mengajar.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita