Kunjungan Tokoh Masyarakat: Memberikan Testimoni Positif dan Inspiratif

Sumber: https://share.google/A8IBb7GTYnO6NMPWl
Menghadirkan ODHA, dokter, atau aktivis yang telah berhasil hidup sehat dapat
memberikan dampak emosional yang kuat bagi siswa. Anak-anak melihat langsung
bahwa orang dengan HIV dapat menjalani kehidupan normal dan produktif.
Pengalaman nyata ini secara otomatis mengikis persepsi negatif atau menakutkan
yang mungkin sudah mereka dengar. Pertemuan tatap muka juga memberi ruang untuk
empati yang lebih tulus. Dengan demikian, kunjungan tokoh inspiratif menjadi
jembatan penting untuk mengubah stigma menjadi pemahaman.
Pemilihan pembicara harus mempertimbangkan kemampuan mereka dalam menyampaikan
narasi yang positif dan penuh optimisme. Tokoh tersebut perlu memiliki rasa
percaya diri agar pesan yang dibawakan terdengar meyakinkan dan hangat bagi
anak. Selain itu, mereka harus mampu menggunakan bahasa yang sederhana dan
ramah, sesuai dengan perkembangan kognitif siswa SD. Kesamaan pesan antara
tokoh dan pihak sekolah penting agar arah edukasi tetap konsisten. Dengan cara
ini, komunikasi yang dibangun bisa berjalan efektif dan mudah diterima anak.
Pembicara dianjurkan untuk menyoroti pengalaman hidup sehari-hari agar
anak-anak dapat melihat bahwa HIV tidak menghalangi seseorang untuk berkarya.
Mereka dapat menceritakan rutinitas sekolah, pekerjaan, atau hobi yang tetap
mereka jalani dengan semangat. Penekanan pada cara menjaga kesehatan membantu
anak memahami pentingnya perilaku hidup sehat tanpa menimbulkan ketakutan.
Tokoh tidak perlu membahas detail penyakit atau hal medis yang kompleks karena
kurang relevan bagi usia SD. Pendekatan ini membuat testimoni terasa ringan
namun tetap inspiratif.
Guru perlu memoderasi sesi tanya jawab dengan baik agar suasana tetap
nyaman bagi pembicara dan siswa. Sebelum sesi dimulai, siswa dapat diberi
arahan mengenai etika bertanya untuk menjaga sopan santun. Guru juga dapat
menyaring pertanyaan yang terlalu pribadi agar privasi pembicara tetap
terlindungi. Dengan panduan yang tepat, siswa tetap dapat mengekspresikan rasa
ingin tahu tanpa melanggar batas kesopanan. Moderasi yang efektif menjadikan
sesi ini aman, edukatif, dan menyenangkan.
Pertemuan langsung dengan tokoh inspiratif membantu menghilangkan bayangan
menakutkan tentang HIV/AIDS yang mungkin muncul dari informasi tidak tepat.
Anak-anak mulai memahami bahwa HIV bukan akhir dari segalanya. Mereka belajar
bahwa setiap orang bisa tetap produktif dan bahagia. Melalui pengalaman ini,
harapan menggantikan stigma. Pada akhirnya, interaksi positif tersebut
menciptakan sikap empati dan penerimaan yang lebih luas di lingkungan sekolah.
Author & Editor:
Firstlyta Bulan