Kriteria Memilih Area Titik Kumpul yang Bebas dari Reruntuhan
Sumber:
Gemini AI
Titik kumpul
merupakan elemen krusial dalam sistem evakuasi sekolah karena menjadi lokasi
aman sementara bagi seluruh warga sekolah setelah keluar dari bangunan.
Pemilihan area titik kumpul tidak dapat dilakukan secara sembarangan, sebab
kesalahan penempatan justru dapat meningkatkan risiko cedera akibat reruntuhan
atau bahaya lanjutan. Oleh karena itu, diperlukan kriteria yang jelas dan
terukur dalam menentukan lokasi titik kumpul yang aman.
Kriteria utama
dalam memilih titik kumpul adalah jarak aman dari bangunan. Area titik kumpul
harus berada cukup jauh dari gedung sekolah untuk menghindari risiko tertimpa
reruntuhan, kaca pecah, atau material bangunan yang jatuh. Jarak ini idealnya
minimal setara dengan tinggi bangunan terdekat. Dengan demikian, apabila
terjadi runtuh sebagian atau kerusakan struktural, warga sekolah tetap berada
di area yang relatif aman.
Selain jarak,
kondisi fisik area juga harus diperhatikan. Titik kumpul sebaiknya berada di
area terbuka yang datar, tidak licin, dan bebas dari potensi longsor atau
genangan air. Permukaan tanah yang stabil akan memudahkan pengaturan barisan
siswa dan mengurangi risiko terjatuh. Area yang terlalu miring atau berbatu
dapat menyulitkan pendataan dan penanganan darurat.
Aksesibilitas
menjadi kriteria berikutnya. Titik kumpul harus mudah dijangkau melalui jalur
evakuasi yang telah ditetapkan, termasuk bagi siswa dan staf berkebutuhan
khusus. Jalur menuju titik kumpul tidak boleh melewati area berbahaya seperti
parkiran kendaraan, kabel listrik terbuka, atau area penyimpanan bahan kimia.
Akses yang jelas dan aman akan mempercepat proses evakuasi dan mengurangi
kepanikan.
Kapasitas area
titik kumpul juga harus disesuaikan dengan jumlah warga sekolah. Area tersebut
harus mampu menampung seluruh siswa, guru, dan staf tanpa berdesakan.
Pengaturan zona atau penandaan berdasarkan kelas atau unit kerja akan
memudahkan pendataan dan koordinasi. Titik kumpul yang terlalu sempit dapat
menyebabkan kepadatan dan meningkatkan risiko kecelakaan sekunder.
Terakhir, titik
kumpul harus dilengkapi dengan penanda yang jelas dan dipahami oleh seluruh
warga sekolah. Rambu titik kumpul perlu dipasang secara permanen dan terlihat
dari kejauhan. Selain itu, lokasi titik kumpul harus disosialisasikan dan
dilatihkan secara rutin melalui simulasi evakuasi. Dengan memenuhi kriteria
tersebut, titik kumpul dapat benar-benar berfungsi sebagai ruang aman yang
mendukung keselamatan dan ketertiban pasca-evakuasi.
Editor: Firstlyta
Bulan