Keteladanan Guru: Pondasi Budaya Antikorupsi Sejak Dini
Upaya membangun budaya antikorupsi sejak usia dini semakin ditekankan di berbagai lembaga pendidikan. Para pakar pendidikan sepakat bahwa guru memiliki peran vital sebagai figur teladan yang dapat membentuk karakter siswa melalui tindakan sehari-hari. Keteladanan guru bukan hanya soal menyampaikan pengetahuan, tetapi juga menunjukkan praktik nyata integritas dalam pembelajaran, interaksi, dan pengambilan keputusan di kelas.
Dalam keseharian, siswa memperhatikan semua perilaku gurunya mulai dari cara mengelola waktu, memberikan penilaian, hingga bersikap adil kepada seluruh peserta didik. Hal-hal kecil seperti menepati janji, tidak memihak, serta menghindari pemberian berlebihan dari orang tua murid menjadi indikator penting bagaimana nilai kejujuran dan tanggung jawab dihidupkan. Ketika guru menunjukkan konsistensi sikap, siswa pun belajar bahwa integritas adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka.
Ahli pendidikan karakter dari University of Missouri, Amerika Serikat, Prof. Marvin W. Berkowitz (2021), menegaskan bahwa keteladanan guru memiliki dampak jangka panjang terhadap perkembangan moral siswa. “Children are moral apprentices. They observe and imitate the adults around them, especially teachers,” ujarnya. Ia menyebut bahwa guru bukan hanya penyampai materi, melainkan aktor moral yang membentuk fondasi nilai pada generasi muda.
Senada dengan itu, profesor etika pendidikan dari University of London, Dr. Kristján Kristjánsson (2020), menjelaskan bahwa budaya antikorupsi hanya dapat tumbuh jika siswa terbiasa melihat contoh nyata dari para pendidik mereka. “Moral education fails when there is a gap between what teachers teach and what teachers do,” katanya. Keteladanan, menurutnya, merupakan fondasi yang lebih kuat dibandingkan sekadar instruksi moral dalam kurikulum.
Sejumlah sekolah kini mulai menerapkan praktik pembelajaran berbasis integritas, seperti kelas kejujuran, penilaian transparan, dan refleksi harian mengenai perilaku moral. Guru dilatih untuk menanamkan nilai antikorupsi melalui pembiasaan sederhana: tidak menoleransi tindakan menyontek, mengutamakan keadilan dalam pembagian tugas, dan memberikan ruang bagi siswa untuk menyuarakan pendapat secara jujur. Program-program ini terbukti meningkatkan kesadaran siswa akan nilai tanggung jawab dan etika.
Dengan fondasi keteladanan guru yang kuat, sekolah dapat membangun generasi yang tumbuh dengan nilai kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab. Budaya antikorupsi tidak lahir dari teori semata, tetapi dari praktik-praktik kecil yang dilakukan guru setiap hari. Oleh karena itu, memperkuat integritas guru bukan hanya kebutuhan personal, melainkan investasi nasional untuk mewujudkan masyarakat yang lebih bersih, adil, dan berintegritas.
Author: Wasis Suprapto
Editor: Arika Rahmania
Sumber:AI